iklan banner

Tampilkan postingan dengan label AL QURAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AL QURAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Maret 2018

FADZILAH ALQURAN SERTA DZIKIR DI LANGIT DAN DI BUMI


FADZILAH ALQURAN SERTA DZIKIR DI LANGIT DAN DI BUMI

عَنْ اَبِيْ ذَرٍّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَلَ : قَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( لِاَ بِىْ ذَرٍّ ) عَلَيْكَ بِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ , وَذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَاِنَّهُ ذِكْرٌ لَّكَ فِى السَّمَاءِ وَنُرٌ لَّكَ فِى الْاَرْضِ . ( وهو جزء من الحديث ) رواه البيهقى فى شعب الايمان٤/٢٤٢ .
‘ALAIKA BITILAWATIL QURAN WADZIKRILLAHI ‘AZZA WAJALLA, FAINNAHU DZIKRUN LAKA FIS SAMAA-I WA NUURUN LAKA FIL ARDHI

Dari Abu Dzar r.a. berkata, Rasulullah saw. Bersabda (kepada Abu Dzar) “ Hendaknya kamu membaca al-Quran dan dzikir kepada Allah azza wajalla, karena sesungguhnya hal itu akan menjadikanmu diingat di langit dan cahaya bagimu di bumi.” (Bagian dari hadits yang panjang, diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam syu’aibul iiman IV/242)

FAEDAH :

Sebagian amalan yang sangat dianjurkan oleh baginda Nabi shollallahu alaihi wasallam adalah membaca alquran dan dzikrullah. Dua amalan yang dinasehatkan kepada sahabat Abu dzar oleh beliau untuk di lazimkan dan dicintai karena mengandung keutamaan yang besar.

Membaca Alquran dan Dzikrullah menjadikan orang yang mengamalkannya dengan penuh kecintaan dan keikhlasan, akan disebut-sebut dan dibagga-banggakan oleh Allah dikalangan para malaikat.

Sebagaimana digambarkan dalam hadits berikut :

Dari Abu Sa’id Al Khudri, dia berkata: Mu’awiyah keluar menemui satu halaqah (kelompok orang yang duduk berkeliling) di dalam masjid, lalu dia bertanya,”Apa yang menyebabkan engkau duduk?” Mereka menjawab,”Kami duduk berdzikir kepada Allah.” Dia bertanya lagi,”Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan engkau duduk, kecuali hanya itu?” Mereka menjawab,”Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan kami duduk, kecuali hanya itu?” Dia berkata,”Sesungguhnya aku tidaklah meminta engkau bersumpah karena sangkaan (bohong, Pent.) kepadamu. Tidaklah ada seorangpun yang memiliki kedudukan seperti aku dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lebih sedikit haditsnya dariku. Dan sesungguhnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui satu halaqah dari para sahabat beliau. Kemudian beliau bertanya,’Apa yang menyebabkan engkau duduk?’.” Mereka menjawab,”Kami duduk berdzikir kepada Allah.” Beliau bertanya lagi,”Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan engkau duduk, kecuali hanya itu?” Mereka menjawab,”Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan kami duduk, kecuali hanya itu?” Beliau bersabda,”Sesungguhnya, aku tidaklah meminta engkau bersumpah karena sangkaan (bohong, Pent) kepadamu. Akan tetapi Jibril telah mendatangiku, lalu memberitahukan kepadaku, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membanggakanmu kepada para malaikat.” [HR Muslim, no. 2701].

Jika Allah SWT membanggakan amalan manusia kepada para malaikat, itu menandakan amalan kita diteria oleh-Nya, maka balasannya insyaa Allah berupa pengampunan atas dosa-dosa, kebutuhan kita dicukupi dengan rezeki yang tidak disangka-sangka. Doa-doa yang tak tertolak dan selalu dikabulkan Allah, serta kelak kita akan dimasukkan ke dalam surga.

Membaca Alquran dan Dzikrullah akan menjadi cahaya bagi orang yang mengamalkannya dengan penuh kecintaan dan keikhlasan. Hal ini sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا (174)
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti ke­benaran dari Tuhan kalian, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepada kalian cahaya yang terang ben­derang (Al-Qur’an). (Q.S. Annisa [4]:174)

Dalam tafsir Ibnu Katsir yang dimaksudkan NURON MUBINAN (cahaya yang terang benderang) Yaitu cahaya yang terang dan jelas menunjukkan perkara yang hak. Menurut Ibnu Juraij dan lain-lainnya, makna yang dimaksud ialah Al-Qur'an.

Dalam kehidupan dunia Cahaya adalah sumber keindahan, sumber kehidupan, sumber kebahagiaan. Manusia bisa melihat eloknya dunia karena ada cahaya yang meneranginya.  Ketika manusia sakit memudar cahaya dirinya sehingga pucat pasi. Kecantikan diri pun sirna seiring hilangnya nuur dalam dirinya.
                                                                                         
Cahaya Al-Quran adalah hidayah dari Sang Pencipta. Namun tidak seperti sinar matahari atau cahaya bulan yang dapat terhalang oleh sesuatu, seperti awan, gunung, bangunan, topi dll, cahaya Al-Quran tidak mungkin dihalangi dan terhalangi oleh apapun, kecuali oleh hati yang kotor penuh dengan kerak dosa dan penyakit jiwa (sombong, dengki, anfsu amarah dll.) Orang jahat yang senantiasa bergelimangan dosa dan kemaksiatan menyelimuti dirinya dengan dzulumat (kegelapan). Orang beriman yang banyak beramal sholeh akan terpancar cahaya kesholehannya.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.(QS.Al-Baqarah(2):257).

Hati manusia itu sifatnya bagaikan cermin. Bila hati bersih maka pantulan cahayanya juga bersih. Dan bila hati kotor maka pantulan cahayanyapun kotor. Cahaya inilah yang memberi warna wajah dan tubuh kita. Cahaya kesolehan terpancar dari cahaya iman dan cahaya alquran yang merasuk dalam hatinya. Begitu kuatnya Cahaya alquran tidak hanya menyinari dirinya namun juga keluarga, masyarakat bahkan dunia sebagaimana para ambiya dan sholihin. Untuk memperkuat cahaya iman dan nuur kesholehan maka amalan yang hendaknya dicintai penuh kecintaan dan keikhlasan adalah Membaca Alquran dan Dzikrullah. Wallahu a’lam

Selasa, 09 Januari 2018

WIRID QULHU (SURAT AL IKHLAS)



 MENCINTAI SURAT AL IKHLAS DAN MENJADIKANNYA SEBAGAI WIRID HARIAN

1. Hadits Sunan Ad-Darimi No. 3300

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا مُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّ هَذِهِ السُّورَةَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ

Telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Harun] telah mengabarkan kepada kami [Mubarak bin Fadlalah] telah menceritakan kepada kami [Tsabit] dari [Anas] bahwa seseorang berkata; Demi Allah, sesungguhnya aku cinta kepada surat ini: QUL HUWALLAHU AHAD (surat Al Ikhlas). Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Cintamu kepadanya (surat Al Ikhlas) akan memasukkanmu ke dalam surga.“

2. Hadits Imam Ahmad No. 15057

عَنْ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ الْجُهَنِيِّ صَاحِبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِذَنْ أَسْتَكْثِرَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَكْثَرُ وَأَطْيَبُ

dari [Mu'adz bin Anas Al Juhani] salah seorang sahabat Nabi Shallallahu'alaihiwasallam dari Nabi Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa membaca QUL HUWA ALLAHU AHAD, sampai sepuluh kali, Allah membangunkan istana di surga baginya". Umar bin Khattab berkata 'Kalau begitu saya akan memperbanyak Wahai Rasulullah!.' Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: " Istana Allah lebih banyak dan lebih bagus"

3. Hadits Sunan Ad-Darimi No. 3303

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ نُوحِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ مُحَمَّدٍ الْعَطَّارِ عَنْ أُمِّ كَثِيرٍ الْأَنْصَارِيَّةِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ خَمْسِينَ مَرَّةً غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَ خَمْسِينَ سَنَةً

Telah menceritakan kepada kami [Nashr bin Ali] dari [Nuh bin Qais] dari [Muhammad Al 'Aththar] dari [Ummu Katsir Al Anshariyah] dari [Anas bin Malik] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang membaca QUL HUWALLAHU AHAD (surat Al Ikhlas) sebanyak lima puluh kali, niscaya Allah akan mengampuni dosanya selama lima puluh tahun."

4. Hadits Imam Tirmidzi No. 2823

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنَامَ عَلَى فِرَاشِهِ فَنَامَ عَلَى يَمِينِهِ ثُمَّ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ مِائَةَ مَرَّةٍ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَقُولُ لَهُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا عَبْدِيَ ادْخُلْ عَلَى يَمِينِكَ الْجَنَّةَ

dari [Anas bin Malik] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa beranjak tidur ke tempat tidurnya, kemudian miring ke sebelah kanannya sambil membaca QUL HUWALLAAHU AHAD sebanyak seratus kali, maka pada hari kiyamat, Rabb Tabaraka wa Ta'ala akan berkata kepadanya: "Wahai hamba-Ku, masuklah surga di sebelah kananmu."

5. Hadits Sunan Ad-Darimi No. 3328

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ أَلْفَ آيَةٍ إِلَى خَمْسِ مِائَةٍ كُتِبَ لَهُ قِنْطَارٌ مِنْ الْأَجْرِ الْقِيرَاطُ مِنْهُ مِثْلُ التَّلِّ الْعَظِيمِ

dari [Abu Ad Darda`] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa yang membaca lima ratus sampai seribu ayat maka dicatat baginya satu qinthar pahala. Satu qirath dari qinthar tersebut seperti sebuah bukit yang besar."


FAEDAH :

Mencintai sesuatu menjadikan diri kita akan senantiasa menjaga dan memeliharanya dalam keseharian kita. Mencintai Alquran tentunya akan menjadikan pembacaannya menjadi hiasan dalam hidup kita sehari-hari. Surat Al Ikhlas adalah surat yang memiliki keutamaan yang besar. Mencintai surat ini akan menjadikannya sebab terhantarnya kita memasuki surga dan dijauhkannya dari Api Neraka.

Oleh karena keutamaannya yang besar serta maknanya yang menanamkan AQIDAH TAUHID kedalam hati, maka nabipun menganjurkan agar melazimkan bacaannya setiap hari dengan bacaan yang banyak. Dalam hadits-hadits diatas bagaimana Nabi shollallahu alaihi wassalam menganjurkan agar membaca Surat Al Ikhlas pada hitungan-hitungan tertentu ( 10 kali, 50 kali, 100 kali) namun juga mengisyaratkan bahwa semakin banyak bacaannya semakin bagus keutaannya. Sehingga hal tersebutlah yang disambut oleh Sayyidina umar untuk menjadikannya sebagai amalan beliau dengan memperbanyak membaca Surat Al Ikhlas.

Pembacaan wirid surat Al ikhlas ini dianjurkan dalam keseharian baik didalam rumah, dalam perjalanan maupun menjelang tidur, sepanjang adab-adabnya terpenuhi, tentunya dalam keadaan bersuci

Bila dikaitkan dengan anjuran Nabi untuk membaca 500 sampai dengan 1000 ayat setiap malamnya, maka ulama menganjurkan untuk melazimkan membaca surat Al Ikhlas (jumlahnya 4 ayat) dikalikan 250 kali menjadi wirid harian, sehingga 250 kali bacaan surat Al-Ikhlas sama dengan bacaan 1000 ayat. Maka hadits-hadits diatas bisa diamalkan untuk meraih Fadhilah (keutamaan) surat Al Ikhlash dan pembacaan Alquran.

Tentunya semakin sering dan semakin banyak kita membaca surat Al-Ikhlas akan menanamkan kecintaan kita kepada surat ini (Alquran) serta menanamkan makna TAUHID yang menjadi kandungan surat ini kedalam hati dan keyakinan kita.

Wallahu a’lam.

Minggu, 22 Januari 2017

MENGKHUSUSKAN BACAAN ALQURAN DAN AMALAN DI HARI TERTENTU


MENGKHUSUSKAN AMALAN DIHARI-HARI TERTENTU DAN MEMBACA AYAT/ SURAT ALQURAN TERTENTU DIPERBOLEHKAN DALAM SYARIAT

Dikalangan umat telah lazim membuat amalan (secara sendirian maupun berjamaah) mengambil waktu-waktu tertentu. Contohnya, majelis dzikir ataupun majelis ilmu pada hari-hari tertentu, juga malam Jumat diselerenggarakan majelis dzikir dan doa dengan membaca Surat Yasiin dan beberapa surat2 tertentu lainnya.

Amailah yang dikhususkan apa hari tertentu atau membaca surat2 tertentu dari alquran bukanlah perkara yang melanggar syariat. Bahkan dapat disandarkan pada dalil-dalil sebagaimana berikut :

DALIL YANG PERTAMA TENTANG MENENTUKAN WAKTU: 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِى مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا . وَكَانَ عَبْدُ اللهِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا يَفْعَلُهُ (رواه البخارى رقم 1193 ومسلم رقم 3462)

"Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah Saw mendatangi masjid Quba' setiap hari Sabtu, baik berjalan atau menaiki tunggangan. Dan Abdullah bin Umar melakukannya." (HR Bukhari No 1193 dan Muslim No 3462) 

al-Hafidz Ibnu Hajar yang diberi gelar Amirul Mu'minin fil Hadis, beristidlal dari hadis di atas: 
وَفِي هَذَا اَلْحَدِيْثِ عَلَى اِخْتِلاَف طُرُقِهِ دَلاَلَةٌ عَلَى جَوَازِ تَخْصِيْصِ بَعْضِ اْلأَيَّامِ بِبَعْضِ اْلأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالْمُدَاوَمَةِ عَلَى ذَلِكَ (فتح الباري لابن حجر 4 / ص 197)

"Dalam hadis ini, dengan bermacam jalur riwayatnya, menunjukkan diperbolehkannya menentukan sebagian hari tertentu dengan sebagian amal-amal saleh, dan melakukannya secara terus-menerus." (Fath al-Bari 4/197)

DALIL KEDUA TENTANG MENGKHUSUSKAN SURAT TERTENTU :

عَنْ أَنَسٍ - رضى الله عنه - كَانَ رَجُلٌ (كلثوم بن الهدم) مِنَ الأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِى مَسْجِدِ قُبَاءٍ ، وَكَانَ كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ بِهَا لَهُمْ فِى الصَّلاَةِ مِمَّا يَقْرَأُ بِهِ افْتَتَحَ بِپ ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا ، ثُمَّ يَقْرَأُ سُورَةً أُخْرَى مَعَهَا ، وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ ، فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا إِنَّكَ تَفْتَتِحُ بِهَذِهِ السُّورَةِ ، ثُمَّ لاَ تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِأُخْرَى ، فَإِمَّا أَنْ تَقْرَأَ بِهَا وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِأُخْرَى . فَقَالَ مَا أَنَا بِتَارِكِهَا ، إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِذَلِكَ فَعَلْتُ ، وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ . وَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْ أَفْضَلِهِمْ ، وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ ، فَلَمَّا أَتَاهُمُ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فَقَالَ « يَا فُلاَنُ مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ وَمَا يَحْمِلُكَ عَلَى لُزُومِ هَذِهِ السُّورَةِ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ » . فَقَالَ إِنِّى أُحِبُّهَا . فَقَالَ « حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ » (رواه البخاري 774)

Ada seorang sahabat bernama Kaltsul bin Hadm yang setiap salat membaca surat al-Ikhlas. Rasulullah Saw bertanya: "Apa yang membuatmu terus-menerus membaca surat al-Ikhlas ini setiap rakaat?". Kaltsul bin Hadm menjawab: "Saya senang dengan al-Ikhlas". Rasulullah bersabda: "Kesenanganmu pada surat itu memasukkanmu ke dalam surga." (HR al-Bukhari No 774)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: 
وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ تَخْصِيصِ بَعْضِ الْقُرْآنِ بِمَيْلِ النَّفْسِ إِلَيْهِ وَالِاسْتِكْثَارِ مِنْهُ وَلَا يُعَدُّ ذَلِكَ هِجْرَانًا لِغَيْرِهِ (فتح الباري لابن حجر ج 3 / ص150)

"Hadis ini adalah dalil diperbolehkannya menentukan membaca sebagian al-Quran berdasarkan kemauannya dan memperbanyak bacaan tersebut. Dan hal ini bukanlah pembiaran pada surat yang lain." (Fathul Bari III/105)

Berdasarkan hadis-hadis sahih dan ulama ahli hadis, maka mengkhususkan bacaan alquran tertentu dan membuat amalan pada hari tertentu hukumnya diperbolehkan.

Wallahua’lam


Senin, 16 Januari 2017

BAHAYA MEMAHAMI ALQURAN TANPA ILMU

BAHAYA MEMAHAMI ALQURAN HANYA MENGANDALKAN LOGIKA SENDIRI TANPA ILMU

Pentingnya belajar alquran berguru tidak hanya mengandalkan membaca alquran terjemahaan adalah supaya tidak salah memaknai / memahami alquran dengan logika kita sendiri, serta terkena ancaman Nabi Shollallahu alaihi wasallam dalam hadits dibawah ini.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
dari [Ibnu Abbas] radliallahu 'anhuma, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa berkata tentang al-Qur'an tanpa ilmu, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka." (HR. Tirmidzi, hadits ini hasan shahih.)

عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ
dari [Jundub bin Abdullah] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mengatakan tentang Al Qur`an dengan pendapatnya, maka dia tetap salah walaupun pendapatnya benar."  (HR. Tirmidzi)

Imam Tirmidzi menjelaskan hadits diatas :

telah diriwayatkan dari sebagian ulama dari para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan yang lainnya, bahwa mereka memperketat dalam masalah ini, yaitu tentang menafsirkan Al Qur`an tanpa Ilmu,

adapun yang diriwayatkan dari Mujahid, Qatadah dan lainnya dari para ulama, bahwa mereka menafsirkan Al Qur`an bukan karena prasangka yang ada pada mereka, kemudian mereka mengatakan tentang Al Qur`an atau menafsirkannya tanpa dasar ilmu atau dari diri mereka,

telah diriwayatkan dari mereka, mengenai dalil yang menunjukkan atas apa yang kami katakana, bahwa mereka tidak mengatakan tentang Al Qur`an dari diri mereka tanpa dasar ilmu. Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Mahdi Al Bashri telah mengabarkan kepada kami Abdurrazzaq dari Ma'mar dari Qatadah ia berkata; "Tidak ada satu ayat pun dari Al Qur`an kecuali aku telah mendengar apa yang terkandung di dalamnya."

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari Al A'masy ia berkata; Mujahid berkata; "Seandainya aku membaca dengan bacaan Ibnu Mas'ud, maka aku tidak perlu lagi bertanya kepada Ibnu Abbas tentang banyak hal dari Al Qur`an, sebagaimana yang saya tanyakan."

---- SELESAI KUTIPAN----

Para sahabat dalam memahami alquran beliau saling berguru dari ahlinya, yaitu sahabat ahli alquran yang mendapat pengajaran langsung dari Rosulallah shallallahu alaihi wasallam.

Ibnu Katsir mengatakan, “Menafsirkan Al Qur’an dengan logika semata, hukumnya haram.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 1: 11).

Masruq berkata,
اتقوا التفسير، فإنما هو الرواية عن الله
Hati-hati dalam menafsirkan (ayat Al Qur’an) karena tafsir adalah riwayat dari Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 1: 16. Disebutkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Al Fadhoil dengan sanad yang shahih)

Asy Sya’bi mengatakan,
والله ما من آية إلا وقد سألت عنها، ولكنها الرواية عن الله عز وجل
Demi Allah, tidaklah satu pun melainkan telah kutanyakan, namun (berhati-hatilah dalam menafsirkan ayat Al Qur’an), karena ayat tersebut adalah riwayat dari Allah.” (Idem. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, sanadnya shahih).

Ibrahim An Nakho’i berkata,
كان أصحابنا يتقون التفسير ويهابونه
Para sahabat kami begitu takut ketika menafsirkan suatu ayat, kami ditakut-takuti ketika menafsirkan.” (Idem. Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Al Fadhoil, Ibnu Abi Syaibah dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, sanadnya shahih).

Maka agar kita selamat dalam mengambil pelajaran terhadap Al quran. Serta  menjadikan pemahaman terhadap alquran menjadi sandaran dalam kehidupan beragama kita. Kita harus belajar dari ahlinya yaitu para mufassirin / ulama ahli tafsir. Tidak hanya cukup menggunakan terjemahan (depag) dalam memahami / memaknai alquran.

Maka kembalilah kepada para ulama sebagai tempat rujukan memahami alquran, sebagaimana perintah Allah

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“maka bertanyalah kamu kepada ahli dzikir (ulama) jika kamu tidak mengetahui” (an-Nahl: 43).

Semboyan : “AYO NGAJIII”


Wallahu a’lam

Rabu, 28 Desember 2016

AT-TIBYAN MASALAH 25

IMAM NAWAWI 
 “At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran”

MASALAH KE-25:
MEMELIHARA MEMBACA AL-QUR’AN PADA WAKTU MALAM.

Hendaklah seorang penghafaz Al-Qur’an lebih banyak membaca Al-Qur’an pada waktu malam dan dalam sembahyang malam.

Allah berfirman:
“…diantara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah s.w.t pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sholat). Mereka beriman kepada Allah s.w.t dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) berbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang sholeh. (QS Ali Imran: 113-114)

Diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dari Rasulullah s.a.w bahawa baginda bersabda:
 “Sebaik-baik lelaki ialah Abdullah, seandainya di sembahyang pada waktu malam.”

Dalam hadits lainnya dalam kitab Shahih disebutkan bahawa Nabi s.a.w bersabda:
“Wahai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti si fulan; dia kerjakan sembahyang malam, kemudian meninggalkannya.”

Diriwayatkan oleh Thabrani dan lainnya dari Sahl bin Sa’ad ra dari Rasulullah s.a.w baginda bersabda: “Kemulian orang mukmin adalah sembahyang di malam hari.”

Banyak hadits dan athar diriwayatkan berkenaan dengan hal ini.

Diriwayatkan dari Abu Ahwash Al-Jusyamiy, katanya: “Ada orang mendatangi sebuah kemah pada waktu malam. Dia mendengar suara dari penghuninya seperti dengungan lebah. Katanya: “Kenapa mereka merasa aman dari apa yang ditakutkan oleh orang lain?”

Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’I bahawa dia berkata: “Bacalah Al-Qur’an pada waktu malam, walaupun lamanya seperti memerah susu kambing.” Diriwayatkan dari Yazid Ar-Raqasyi, katanya: “Jika aku tidur, kemudian aku terbangun, kemudian aku tidur, maka kedua mataku tidak dapat tidur.”

Saya katakan: “Sesungguhnya sembahyang malam dan membaca AlQur’an ketika itu amat  diutamakan kerana ia lebih menyatukan hati dan lebih jauh dari hal-hal yang menyibukkan dan melalaikan. Di samping itu ia lebih mampu menjaga dari riya’ dan hal-hal lain yang sia-sia. Dan ia menjadi sebab timbulnya kebaikan-kebaikan pada waktu malam.”

Sesungguhnya Isra’ Rasulullah s.a.w terjadi pada waktu malam.

disebut di dalam hadits:
“Tuhanmu turun setiap malam ke langit dunia ketika berlalu sepertiga malam yang awal,  kemudian berkata: “Aku adalah Raja (2x), siapa yang memohon daripada-Ku maka Aku perkenankan.”

Diriwayatkan dalam hadits bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:
 “Pada waktu malam ada suatu saat di mana Allah s.w.t mengabulkan doa setiap malam.”

Diriwayatkan oleh penulis Bahjatul Asraar dengan isnadnya dari Sulaiman Al-Anmathi, katanya: “Aku pernah melihat Ali bin Abu Thalib ra dalam mimpi berkata: “Kalau bukan kerana orang yang sembahyang di malam hari dan lainnya puasa pada waktu siang. Niscaya bumimu telah digoncangkan dari bawahmu kerana kamu kaum yang buruk dan tidak taat.”

Ingatlah bahawa keutamaan sembahyang malam dan membaca AlQur’an ketika itu akan  menghasilkan sesuatu dan tercapainya yang sedikit dan yang banyak. Semakin banyak hal itu dilakukan, semakin baik, kecuali jika meliputi seluruh malam kerana yang demikian itu makruh dan boleh membahayakan dirinya.

Hal yang menunjukkan tercapainya keutamaan itu dengan amalan walaupun sedikit ialah hadits Abdullah bin Amrin Ibnu Al-Ash ra, katanya: Rasulullah s.a.w bersabda:
“Barangsiapa sembahyang malam dan membaca sepuluh ayat, dia tidak ditulis (dimasukkan) kedalam golongan orang yang lalai. Barangsiapa yang sembahyang dengan membaca seratus ayat, dia ditulis dalam golongan orang yang taat. Dan barangsiapa yang sembahyang membaca seribu ayat, dia ditulis ke dalam golongan orang yang berlaku adil.”  (Riwayat Abu Dawud dan lainnya)


Ath-Tha’labi menceritakan dari Ibnu Abbas ra, katanya: “Barangsiapa sembahyang dua rakaat pada waktu malam, lalu dia bermalam dalam keadaan sujud dan berdiri menghadap Allah s.w.t.”

Kamis, 15 September 2016

MENGHIDUPKAN MALAM DENGAN BACAAN ALQURAN

MENGHIDUPKAN MALAM DENGAN BACAAN ALQURAN

(ARBAIN NUURUL QUR’AN NO. 16)


Hadits Imam Abu Daud Nomor 1190

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ الْغَافِلِينَ وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْقَانِتِينَ وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْمُقَنْطِرِينَ َ

MAN QOOMA BI ‘ASYRI AAYATIN LAM YUKTAB MINAL GHOOFILIIN, WA MAN QOOMA BI MI-ATIN AAYATIN KUTIBA MINAL QOONITHIIN, WA MAN QOOMA BI ALFI AAYATIN KUTIBA MINAL MUQONTHIRIIN

dari [Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash] dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa bangun (shalat malam) dan membaca sepuluh ayat, maka dia tidak akan di catat sebagai orang-orang yang lalai. Barangsiapa bangun (shalat malam) dengan membaca seratus ayat, maka dia akan di catat sebagai orang-orang yang tunduk dan patuh, dan barangsiapa bangun (shalat malam) dengan membaca seribu ayat, maka dia akan di catat sebagai orang-orang yang dermawan."

FAEDAH :

Alquran merupakan salah satu nikmat yang paling besar untuk kehidupan manusia dunia dan akhirat. Mensyukuri nikmat adalah bagaimana menggunakan nikmat pemberian Allah sebagaimana maksud diberikannya nikmat tersebut. Alquran diturunkan agar bisadimanfaatkan menjadi petunjuk (hudan), menjadi penawar sakit (syifa) maupun untuk diambil berkahnya dengan rahmat Allah.

Orang yang merugi adalah mereka yang tidak bisa memanfaatkan karunia Ilahi dengan semestinya. Menjadikan kewajiban seorang yang beriman agar senantiasa mensukuri nikmat Alquran dengan membacanya setiap hari. Sebagaimana sabda nabi dalam hadits diatas. Agar tidak dianggap melalaikan kewajiban menysukuri nikmat Alquran minimal setiap malam membacanya walaupn hanya sepuuh ayat. Syukur kalau bisa melebihinya dengan membaca seratus ayat atau seribu ayat. Semakin banyak ayat yang dibaca semakin bagus catatan amal kebaikannya.

Semakin tambah usia mausia semakin dekat dengan ajalnya, maka dianjurkan untk mengurangi porsi waktu tidur malam (tirakat) untuk memanfaatkan waktu mustajab di sebagian malam dengan membaca al quran. Salah satu obat hati adalah dzikir malam yang panjang, salah satunya adalah dengan membaca alquran.

Membaca alquran dalam sholat malam adalah bagian dari anjuran Nabi shollallohu alaihi was salam. Baik dilaksanakan dengan membaca hafalan alquran ataupun membaca dengan muskhaf alquran dalam sholat malam bagi yang hafalannya kurang banyak.

Membaca alquran sebagai Hizib atau Wirid dengan mengulang-ulang surat-surat tertentupun bisa dilakukan. Nabipun pernah membaca surat Al fath secara berulang-ulang ketika pembebasan makkah. Sehingga untuk mentadaburi makna agar meresap dihati ataupun mengambil barokkah surat Alquran membacanya dengan berulang-ulang. 

Ulama mengajarkan agar membaca surat Al ikhlas yang berjumlah 4 ayat sebanyak 250 kali akan tercapai hitungan 1000 ayat. Kecintaan terhadap surat Al Ikhlash dan  usaha utuk memperbanyak jumlah ayat yang dibaca setiap malam merupakan bagian usaha muslimin untuk menjalankan perintah anjuran (sunnah) Nabi shollallohu alaihi  wassalam terhadap  Alquran.

Wallahu a’lam.


MENGGAPAI DRAJAT SURGA DENGAN ALQURAN

MENGGAPAI DRAJAT SURGA 
DENGAN ALQURAN

( ARBAIN NUURUL QUR’AN NO. 15 )


Hadits Imam Ibnu Majah Nomor 3770

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ إِذَا دَخَلَ الْجَنَّةَ اقْرَأْ وَاصْعَدْ فَيَقْرَأُ وَيَصْعَدُ بِكُلِّ آيَةٍ دَرَجَةً حَتَّى يَقْرَأَ آخِرَ شَيْءٍ مَعَهُ



YUQOOLU LISHOOKHIBIL QUR’AN IDZAA DAKHOLAL JANNAH, IQRO’ WASH’AD FA YAQRO-U WAYASH’ADU BIKULLI AAYATIN DAROJATAN KHATTA YAQRO-A AAKHIRO SYAI-IN MA’AHU

dari [Abu Sa'id Al Khudri] dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Di perintahkan kepada orang yang ahli dalam Al Qur'an ketika ia masuk ke dalam surga; "Bacalah dan naiklah." Maka ia pun membacanya dan dirinya pun naik (derajatnya) dengan ayat yang ia baca hingga ayat terakhir."

FAEDAH :

Cita-cita orang beriman bukan sekedar memasuki surga belaka. Namun juga mendapatkan kedudukan yang lebih mulia disisi Allah dengan menempati surga yang lebih tinggi derajatnya.

Kenikmatan dan kemuliaan di dalam surga itu berbeda-beda, sesuai dengan amal perbuatan manusia. Hal itu menimbulkan, perbedaan derajat dan tingkatan mereka di dalamnya. Dengan demikian, siapa yang paling banyak karunianya, siapa yang paling sempurna iman dan yang paling rajin beramal di dunia.

Allah SWT, melalui Alquran, memberitahukan bahwa surga itu terdiri dari beberapa derajat. Dia berfirman,

هُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ اللّهِ واللّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

Kedudukan mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (QS. Ali Imran [03]: 163)

“Beberapa derajat daripada-Nya, ampunan dan rahmat (kasih saying Allah), dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An Nisa (4):96)

Surga yang paling rendah diberikan kepada orangberiman yang paling akhir gilirannya memasuki surga. Yang hanya berbekal iman sebesar debu. Diberikan padanya  surga yang seluas 10 kali dunia.

Adapun derajat yang paling tinggi dan paling agung adalah surga Firdaus. Oleh karena itulah, Rasulullah saw. Memerintahkan kepada umatnya untuk meminta surga yang tidak tanggung-tanggung, yaitu surga Firdaus.

Barang siapa menginginkan derajat yang paling tinggi atau menginginkan derajat-derajat khusus, maka jalannya terpampang luas dan mudah serta pintunya terbuka lebar. kesungguhannya ditandai semakin rajin beramal, makaderajat  surga yang disediakan baginya tentu semakin tinggi.

Sebagaimana dalam Rosulullah shollallahu alaihi wassalam memberikan kabar bahwa ketinggian derajat surga orang beriman tergantung juga seberapa banyak dan sempurnanya dalam membaca / menghafal alquran.

Usaha untuk memperbanyak bacaan dan hafalan alquran akan meninggikan derajat kemuliaan kita disisi Allah ta’ala, sehingga akan disediakan baginya derjat surga yang semakin tinggi pula.

Wallahu a’lam.


iklan