iklan banner

Tampilkan postingan dengan label DZIKIR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DZIKIR. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Agustus 2018

TAHLIL DAN ISTIGHFAR



TAHLIL DAN ISTIGHFAR PENEGUH IMAN MENGHANCURKAN IBLIS

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ (19)
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu (Q.S. Muhammad [47]:19)

FADHILAH :

Ini merupakan berita dari Allah Swt. bahwa Dia tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia. Sehingga selayaknyalah kita senantiasa mengagungkan asman-Nya dan memohon ampunan atas dosa dan kesalahan kita pada-Nya.

Di dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. mengucapkan dalam doanya:
"اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي هَزْلي وَجِدِّي، وخَطَئي وعَمْدي، وَكُلَّ ذَلِكَ عِنْدِي"


ALLAHUMMAGHFILIY KHOTII-ATIY WAJAHLIY, WA ISROFIY FII AMRIY, WA MAA ANTA A’LAMU BIHI MINNIY, ALLAHUMMAGHFIRLIY HAZLIY WA JIDDIY, WAKHOTHOYA WA ‘AMDIY, WA KULLI DZALIKA ‘INDIY

“Ya Allah, ampunilah bagiku semua kesalahanku, ketidaktahuanku, dan sikap berlebihan dalam urusanku, serta semua yang Engkau lebih mengetahui dariku. Ya Allah, ampunilah bagiku selorohku dan kesungguhanku, dan (juga) kekeliruanku serta kesengajaanku, yang semuanya itu ada padaku.”

Di dalam hadis sahih disebutkan pula bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ، فَإِنِّي أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Hai manusia, bertobatlah kamu kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya aku pun memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali.

Keuatamaan kalimat iman (TAHLIL) dan ISTIGHFAR dikemukakan dalam riwayat Abu Ya'la :

حَدَّثَنَا مُحَرَّز بْنُ عَوْنٍ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ مَطَرَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْغَفُورِ، عَنْ أَبِي نَصِيرَة، عَنْ أَبِي رَجَاءٍ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قَالَ: "عَلَيْكُمْ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَالِاسْتِغْفَارِ، فَأَكْثِرُوا مِنْهُمَا، فَإِنَّ إِبْلِيسَ قَالَ: أَهْلَكْتُ  لنَّاسَ بِالذُّنُوبِ، وَأَهْلَكُونِي بِـ "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ"، وَالِاسْتِغْفَارِ فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ أَهْلَكْتُهُمْ بِالْأَهْوَاءِ، فَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ"

Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Aun, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Matar, telah menceritakan kepada kami Abdul Gafur, dari AbuNasr, dari Abu Raja, dari Abu Bakar As-Siddiq r.a., dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda:
“Bacalah oleh kalian kalimah 'la ilaha illallah' (tidak ada Tuhan yang wajib disembah) selain Allah, dan istigfar, perbanyaklah kalian membaca keduanya, karena sesungguhnya iblis telah mengatakan, "Sesungguhnya aku telah binasakan umat manusia dengan dosa-dosa, dan mereka membinasakanku dengan kalimah 'la ilaha illallah' dan istigfar. Setelah kulihat demikian, maka kubinasakan mereka dengan hawa nafsu, maka mereka mengira bahwa dirinya mendapat petunjuk.”

Wallahu a’lam

Minggu, 08 Juli 2018

Dzikir dalam jumlah Ribuan

DZIKIR DALAM JUMLAH HITUNGAN RIBUAN MERUPAKAN AMALIAH SAHABAT

Amaliyah para sahabat, Tabiin dan umat Islam seluruhnya. Justru banyak sahabat Nabi yang berdzikir dalam jumlah ribuan.

al-Hafidz Ibnu Katsirberkata:
ﻭﺭﻭﻯ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻋﻦ ﻋﻜﺮﻣﺔ ﻗﺎﻝ:ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻫﺮﻳﺮﺓ: ﺇﻧﻲ ﻻﺳﺘﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰﻭﺟﻞ ﻭﺃﺗﻮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﺍﺛﻨﺘﻲ ﻋﺸﺮﺓﺃﻟﻒ ﻣﺮﺓ، ﻭﺫﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺩﻳﺘﻲ: ﻭﺭﻭﻯﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ: ﺃﻧﻪﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺧﻴﻂ ﻓﻴﻪ ﺍﺛﻨﺎ ﻋﺸﺮ ﺃﻟﻒ ﻋﻘﺪﺓﻳﺴﺒﺢ ﺑﻪ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﻨﺎﻡ. ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺃﻟﻔﺎﻋﻘﺪﺓ ﻓﻼ ﻳﻨﺎﻡ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺒﺢ ﺑﻪ، ﻭﻫﻮﺃﺻﺢ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺒﻠﻪ) .ﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ -ﺝ 8 / ﺹ 120

“Ahmad meriwayatkan dari Ikrimah, bahwa Abu Hurairah berkata: Sungguh saya meminta ampunan kepada Allah (istighfar) dan bertaubat setiap hari sebanyak 12.000 kali, hal ini sesuai dengan tebusan dosa saya. Abdullah bin Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Hurairah memiliki benang yang terdiri dari 12.000 ikatan yang ia gunakan sebelum tidur. Dalamriwayat lain sebanyak 2000 ikatan, Abu Hurairah tidak tidur hingga bertasbih dengannya. Riwayat inilebih sahih dari sebelumnya” (al-Bidayah wa an-Nihayah 8/120)

Ibnu Qayyim  berkata:
ﻋﻦ ﻗﺘﺎﺩﺓ ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺃﻛﺜﺮﻭﺍﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻲ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻭﻛﺎﻥﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﻳﺴﺘﺤﺒﻮﻥﺇﻛﺜﺎﺭ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ)ﺟﻼﺀ ﺍﻷﻓﻬﺎﻡ – ﺝ 1 / ﺹ 87
Dari Qatadah, dari Anas bahwaRasulullah bersabda: Perbanyaklah salawat kepada saya di hari Jumat. Dan para sahabat menganjurkan memperbanyak salawat kepada Nabi di hari Jumat” (Jala’ al-Afham1/87)

Berapa jumlah Salawat yangdibaca? Ibnu Qayyim menjelaskan
ﻋﻦ ﺍﻷﻋﻤﺶ ﻋﻦ ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﻭﻫﺐ ﻗﺎﻝ ﻟﻲﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻳﺎ ﺯﻳﺪ ﺑﻦﻭﻫﺐ ﻻ ﺗﺪﻉ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺃﻥﺗﺼﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺃﻟﻒ ﻣﺮﺓ ﺗﻘﻮﻝﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﻤﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺍﻷﻣﻲ)ﺟﻼﺀ ﺍﻷﻓﻬﺎﻡ – ﺝ 1 / ﺹ 87
Dari A’masy, dari Zaid ibnu Wahb,telah berkata Ibnu Mas’ud kepadasaya: Wahai Zaid, jangan kautinggalkan di hari Jumat untukbersalawat kepada Nabi 1000 kali” (Jala’ al-Afham 1/87)

Begitu pula seorang Tabiin berikut ini
ﻭﻛﺎﻥ ﺧﺎﻟﺪ ﺑﻦُ ﻣﻌﺪﺍﻥ ﻳُﺴﺒِّﺢُ ﻛﻞَّ ﻳﻮﻡﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﺃﻟﻒ ﺗﺴﺒﻴﺤﺔ ﺳﻮﻯ ﻣﺎ ﻳﻘﺮﺃ ﻣﻦﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ، ﻓﻠﻤﺎ ﻣﺎﺕ ﻭﺿﻊ ﻋﻠﻰ ﺳﺮﻳﺮﻩﻟﻴﻐﺴﻞ ، ﻓﺠﻌﻞ ﻳُﺸﻴﺮ ﺑﺄﺻﺒﻌﻪ ﻳُﺤﺮﻛﻬﺎﺑﺎﻟﺘﺴﺒﻴﺢ )ﺃﺧﺮﺟﻪ : ﺃﺑﻮ ﻧﻌﻴﻢ ﻓﻲ “ﺍﻟﺤﻠﻴﺔ ” 5/210ﻭﺗﺬﻛﺮﺓ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ – ﺝ/ 1 ﺹ 93
Khalid bin Ma’dan bertasbih setiap hari sebanyak 40.000 tasbih selain al-Quran. Ketika meninggal ia diletakkan di atas meja untuk dimandikan, ternyata jarinya bergerak bertasbih” (Abu Nuaim dalam al-Hilyah 5/210 dan adz-Dzahabi dalam Tadzkirah al-Huffadz 1/93)

Maka, bagaimana mungkin Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud dan sahabat lainnya melakulan perbuatan bid’ah yang sesat?  Sahabat dan tabiin sangat mengerti bagaimana menjalankan perintah Allah dan Rasulallah untuk berdzikir dengan dzikir yang banyak.

Wallahu a’lam

Jumat, 19 Januari 2018

DZIKIR BERSAMA BERSUARA KERAS



KEUTAMAAN DZIKIR BERSAMA DAN BERSUARA JAHR (KERAS)

Dzikir sebagaimana boleh dilakukan secara lirih, juga diperbolehkan dengan suara keras. Kedua-duanya memiliki keutamaan yang akan kami terangkan. Dan keutamaan dzikir dengan suara keras lebih sempurna.

Sementara hadis yang berbunyi: Khairu al-dzikri al-khafiyyu ('Sebaik-baik dzikir adalah yang samar' HR Ahmad No 1477 dan Ibnu Hibban No 809), maksudnya adalah dzikir dalam hati dengan memikirkan keagungan Allah dan kebesaran ciptaan-Nya, sebagaimana dalam Syarah Sahih Muslim (Imam Nawawi) IX/56.

Inilah dasar dalam menegakkan syiar dalam syariat Islam, ajaran-ajarannya dan sunah-sunahnya, seperti dalam adzan dan iqamat, saat takbiratul ihram dalam salat, ritual-ritual haji dalam bentuk talbiyah, takbir, kumandang orang yang berhaji dengan doa, mengeraskan bacaan al-Quran saat salat Subuh dan dua rakaat permulaan salat Maghrib dan Isya', mengeraskan tasbih dan tahlil saat keluar pada dua hari raya. Kesemuanya itu sudah ada di masa Nabi, para sahabat dan tabi'in.

Membaca dzikir dengan suara keras adalah sebuah cara untuk memperbanyak orang berdzikir supaya hati mereka condong untuk ikut berdzikir. Hanya saja dianjurkan supaya tidak terlalu keras, sebagaimana firman Allah Saw:
وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيْلاً ﴿١١٠﴾ (قَالَ الشَّيْخُ اِسْمَاعِيْلُ) "فَالتَّوَسُّطُ فِيْهِ هُوَ الْعَدْلُ وَهُوَ سَبِيْلُ اْلاِسْتِدَامَةِ عَلَيْهِ"
"Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" (Al-Isra': 110).

(Syaikh Ismail berkata) "Maka, suara yang sedang (tidak keras dan tidak lirih) adalah yang tengah-tengah dan cara untuk terus-menerus dalam berdzikir."

Diriwayatkan dari Ibnu Umar secara marfu': "Dzikir dengan suara lirih lebih utama daripada dzikir secara keras. Dan dzikir secara keras lebih utama bagi orang yang dijadikan imam dalam dzikir" (al-Dzhabi dalam Lisan al-Mizan II/665)

Ibnu Katsir berkata: "Janganlah mengeraskan bacaan al-Quran, sebab akan dicacimaki oleh orang-orang musyrik. Dan jangan melirihkannya, sebab sahabat-sahabatmu tidak bisa mendengarnya. Ibnu Abbas berkata: Setelah Rasulullah hijrah, maka tidak ada halangan lagi dan beliau bisa melakukan sesuai keinginannya" (Tafsir Ibnu Katsir V/128)

Dzikir dengan suara keras memiliki keutamaan dari pada dengan suara lirih, sebagaimana dijelaskan dalam hadis (Qudsi) riwayat Mu'adz bin Anas:
عَنْ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللهُ تَعَالَى لاَ يَذْكُرُنِي عَبْدِي فِي نَفْسِهِ إِلاَّ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ مِنْ مَلاَئِكَتِي وَلاَ يَذْكُرُنِي فِي مَلاَءٍ إِلاَّ ذَكَرْتُهُ فِي الرَّفِيْقِ اْلأَعْلَى (رواه الطبراني)
"Rasulullah Saw bersabda bahwa Allah berfirman: Tidak ada hamba-Ku yang meneybut-Ku dalam dirinya kecuali Aku menyebutnya dalam kelompok diantara malaikat-Ku. Dan tidak ada yang menyebut-Ku diantara kelompok yang mulia kecuali Aku menyebutnya dalam kelompok malaikat yang lebih tinggi" (HR al-Thabrani)

HR al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir No 16803. al-Hafidz al-Haitsami berkata: Sanadnya hasan (Majma' al-Zawaid X/19)

Al-Munawi berkata: "Hadis ini menjelaskan bahwa dzikir lisan secara keras lebih utama daripada dzikir lirih atau dzikir dalam hati" (Faidl al-Qadir Syarh al-Jami' al-Shaghir IV/647)

Dan hadis (Qudsi) dari Ibnu Abbas:
وَحَدِيْثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِذَا ذَكَرْتَنِي خَالِيًا ذَكَرْتُكَ خَالِيًا وَإِذَا ذَكَرْتَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُكَ فِي مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنَ الَّذِيْنَ ذَكَرْتَنِي فِيْهِمْ (رواه البزار بسند صحيح) . (قَالَ الشَّيْخُ اِسْمَاعِيْلُ) "وَالذِّكْرُ فِي الْمَلاَءِ هُوَ الذِّكْرُ جَهْرًا وَحَسْبَ الذَّاكِرَ جَهْرًا هَذِهِ الْمَنْقَبَةُ الْعَظِيْمَةُ وَالْفَضْلُ الْمَزِيْدُ"
"Allah berfirman: Wahai anak Adam. Jika engkau menyebut-Ku dalam dirimu sendiri, maka Aku menyebutmu dalam diriku (tanpa diketahui yang lain). Dan jika engkau menyebut-Ku dalam kelompok yang mulia, maka Aku menyebutmu dalam kelompok yang lebih baik dari pada kelompok yang kau sebut Aku di dalamnya" (HR al-Bazzar dengan sanad yang sahih )

HR al-Bazzar No 5138. Al-Hafidz al-Haitsami berkata: Perawinya adalah sahih selain Basyar bin Mu'adz al-Uqadi, ia perawi terpercaya (Majma' al-Zawaid X/19)

(Syaikh Ismail berkata) "Yang dimaksud dengan 'Dzikir dalam kelompok yang mulia' adalah dzikir dengan suara keras. [7] Dari dalil-dalil dan keutamaan inilah sudah cukup untuk menjadi pegangan bagi orang yang berdzikir dengan suara keras."


Penafsiran ini sesuai dengan ahli hadis al-Hafidz Ibnu Hajar, beliau berkata: "Makna hadis Qudsi diatas adalah: Jika ia menyebut-Ku dalam dirinya maka Aku menyebutnya dengan pahala yang tidak Aku perlihatkan kepada siapapun. Dan jika ia menyebut-Ku dengan suara keras, maka Aku menyebutnya dengan pahala yang Aku perlihatkan kepada kelompok malaikat yang paling tinggi" (Fath al-Bari XIII/386)

Wallahu a’lam

Dzikir Berjamaah



FADHILAH DZIKIR BERJAMAAH

Sebagaimana dzikir boleh dilakukan secara sendiri dan dalam keadaan sepi, dzikir juga boleh dilakukan secara bersama dan terbuka. Bahkan inilah yang lebih utama dan agung.

Sebagaimana dalam hadis Mu'awiyah:
عَنْ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلَقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ ؟ قَالُوْا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلإِسْلاَمِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلاَّ ذَاكَ ؟ قَالُوْا وَاللهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلاَّ ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيْلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلاَئِكَةَ (رواه مسلم والترمذي والنسائي)

"Rasulullah Saw keluar menemui sekelompok para sahabat. Beliau bertanya: Apa yang membuat kalian duduk disini? Mereka menjawab: Kami duduk disini untuk berdzikir kepada Allah, kami memujinya atas limpahan hidayah agama Islam kepada kami dan telah memberi anugerah kepada kami. Rasulullah bertanya: Demi Allah, apakah tidak ada tujuan lain? Sahabat menjawab: Demi Allah kami tidak punya tujuan lain. Rasulullah bersabda: Saya tadi bersumpah bukan karena berprasangka buruk pada kalian, tetapi karena Jibril datang kedapaku dan mengabarkan bahwa Allah mmembanggakan kalian kepada para malaikat" (HR Muslim, al-Turmudzi dan al-Nasa'i [1])

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abu Said al-Khudri, mereka bersaksi bahwa:
وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَأَبِيْ سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ لاَ يَقعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهِ فِيْمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم)
"Rasulullah Saw bersabda: Tidak ada sekelompok kaum pun yang berdzikir kepada Allah, kecuali malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, ketenangan akan datang pada mereka,  dan Allah akan menyebutnya di dalam orang-orang dekatnya" (HR Muslim [2])

Begitu pula riwayat dari Anas:
وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ إِنَّ ِللهِ سَيَّارَةً مِنَ الْمَلاَئِكَةِ يَطْلُبُوْنَ حِلَقَ الذِّكْرِ فَإِذَا أَتَوْا عَلَيْهِمْ وَحَفُّوْا بِهِمْ ثُمَّ بَعَثُوْا رَائِدَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ إِلَى رَبِّ الْعِزَّةِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَيَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا أَتَيْنَا عَلَى عِبَادٍ مِنْ عِبَادِكَ يُعَظِّمُوْنَ آلاَئِكَ وَيَتْلُوْنَ كِتَابَكَ وَيُصَلُّوْنَ عَلَى نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَسْأَلُوْنَكَ ِلآخِرَتِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ فَيَقُوْلُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى غَشُّوْهُمْ رَحْمَتِي فَيَقُوْلُوْنَ يَا رَبِّ إِنَّ فِيْهِمْ فُلاَنًا الْخَطَّاءَ إِنَّمَا اعْتَنَقَهُمْ اِعْتِنَاقًا! فَيَقُوْلُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى غَشُّوْهُمْ رَحْمَتِي فَهُمْ الْجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ (رواه البزار)
"Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling mencari kelompok-kelompok dzikir. Jika mereka telah mendatanginya dan mengelilinginya, mereka mengutus pimpinan mereka ke langit, kepada Tuhan pemilik keagungan. Mereka berkata: Wahai Tuhan kami, kami telah mendatangi sebagian hamba-Mu yang mengagungkan nikmat-nikmat-Mu, membaca kitab-Mu, bershalawat kepada Nabi-Mu, Muhammad Saw, meminta kepada-Mu untuk urusan akhirat dan dunia mereka. Allah berfirman: Naungi mereka dengan rahmat-Ku. Malaikat berkata: Sesungguhnya dalam kelompok itu ada seseorang yang banyak berbuat salah dan ia hanya ikut-ikutan saja. Allah berfirman: Naungi mereka dengan rahmat-Ku. Mereka adalah ahli ibadah yang tak terpengaruh keburukan orang lain" (HR al-Bazzar [3])

Diriwayatkan dari Abu Hurairah:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ ِللهِ مَلاَئِكَةً سَيَّارَةً فُضَلاَءَ يَلْتَمِسُوْنَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فِي اْلأَرْضِ فَإِذَا أَتَوْا عَلَى مَجْلِسِ ذِكْرٍ حَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ فَيَقُوْلُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ فَيَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادِكَ يُسَبِّحُوْنَكَ وَيُكَبِّرُوْنَكَ وَيُحَمِّدُوْنَكَ وَيُهَلِّلُوْنَكَ وَيَسْأَلُوْنَكَ وَيَسْتَجِيْرُوْنَكَ فَيَقُوْلُ مَا يَسْأَلُوْنَنِي وَهُوَ أَعْلَمُ فَيَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا يَسْأَلُوْنَكَ الْجَنَّةَ فَيَقُوْلُ وَهَلْ رَأَوْهَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُوْلُ كَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا ثُمَ يَقُوْلُ وَمِمَّ يَسْتَجِيْرُوْنَنِي وَهُوَ أَعْلَمُ ؟ فَيَقُوْلُوْنَ مِنَ النَّارِ فَيَقُوْلُ هَلْ رَأَوْهَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ لاَ فَيَقُوْلُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا ثُمَّ يَقُوْلُ اِشْهَدُوْا أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ وَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوْنِيْ وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوْنِي فَيَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا إِنَّ فِيْهِمْ عَبْدًا خَطَّاءَ جَلَسَ إِلَيْهِمْ وَلَيْسَ مَعَهُمْ فَيَقُوْلُ وَهُوَ أَيْضًا قَدْ غَفَرْتُ لَهُ هُمُ الْقَوْمُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ (رواه مسلم والحاكم واللفظ له)
"Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah memiliki malaikat utama yang berkeliling mencari majlis-majlis dzikir di bumi. Jika mereka mendatangi majlis dzikir, maka sebagian mereka mengepakkan sayap-sayap mereka ke langit. Allah berfirman: Darimana kalian? Dan Allah maha mengetahui. Malaikat berkata: Kami dari hamba-hamba-Mu yang mensucikan-Mu, mengagungkan-Mu, memuji-Mu, bertahlil kepada-Mu, meminta kepada-Mu dan mencari keselamatan dari-Mu. Allah berfirman: Apa yang mereka minta? Dan Allah maha mengetahui. Mereka berkata: Wahai Tuhan kami, mereka meminta surga. Allah berfirman: Apakah mereka melihat surga? Malaikat menjawab: Tidak, wahai Tuhanku. Allah berfirman: Bagaimana kalau mereka melihatnya? Lalu Allah berfirman: Mereka minta keselamatan dari apa? Dan Allah maha mengetahui. Malaikat menjawab: Dari neraka. Allah berfirman: Apakah mereka melihat neraka? Malaikat menjawab: Tidak. Allah berfirman: Bagaimana kalau mereka melihatnya? Allah berfirman: Saksikanlah bahwa Aku mengampuni mereka, Aku memberikan permintaan mereka dan Aku kabulkan permintaan keselamatan mereka. Malaikat berkata: Wahai Tuhanku, disana ada seorang hamba yang banyak berbuat salah dan dia bukan kelompok mereka. Allah berfirman: Aku ampuni dia. Mereka adalah kaum yang tak terpengaruh keburukan orang lain." (HR Muslim dan al-Hakim, redaksi hadis riwayat al-Hakim [4])

Imam Nawawi berkata:
وَقَالَ النَّوَوِيُّ فِي هَذَا الْحَدِيْثِ فَضِيْلَةُ الذِّكْرِ وَفَضِيْلَةُ مَجْلِسِهِ وَالْجُلُوْسِ مَعَ اَهْلِهِ وَاِنْ لَمْ يُشَارِكْهُمْ وَفَضِيْلَةُ مُجَالَسَةِ الصَّالِحِيْنَ وَبَرَكَتِهِمْ اهـ
"Dalam hadis ini terdapat keutamaan dzikir, keutamaan majlis dzikir dan berkumpul bersama ahli dzikir meskipun tidak sama seperti mereka, juga keutamaan berkumpul bersama orang sholeh dan berkah mereka"

Hadis dari Anas bin Malik:
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ قَوْمٍ يَذْكُرُوْنَ اللهَ جَمِيْعًا لاَ يُرِيْدُوْنَ بِذَلِكَ إِلاَّ وَجْهَهُ إِلاَّ نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ قَدْ بَدَّلْتُ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ (رواه احمد والطبراني وابو يعلى)
"Rasulullah Saw bersabda: Tidak sekelompok kaum pun yang berdzikir semua kepada Allah, mereka mereka tidak mengharap apapun kecuali ridla Allah, kecuali mereka akan diseru dari langit: Berdirilah kalian telah diampuni. Aku telah menggantikan kejelekan kalian dengan kebaikan-kebaikan" (HR Ahmad, al-Thabrani dan Abu Ya'la [5])

Dan hadis riwayat dari Abu Darda':
وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَبْعَثَنَّ اللهُ أَقْوَامًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي وُجُوْهِهِمُ النُّوْرُ عَلَى مَنَابِرِ اللُّؤْلُؤِ يَغْبِطُهُمُ النَّاسُ لَيْسُوْا بِأَنْبِيَاءَ وَلاَ شُهَدَاءَ قَالَ فَجَثَّا أَعْرَابِيٌّ عَلَى رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا نَعْرِفُهُمْ قَالَ هُمُ الْمُتَحَابُّوْنَ فِي اللهِ مِنْ قَبَائِلَ شَتَّى وَبِلاَدٍ شَتَّى يَجْتَمِعُوْنَ عَلَى ذِكْرِ اللهِ يَذْكُرُوْنَهُ (رواه الطبراني)
"Rasulullah Saw bersabda: Allah akan membangkitkan kaum-kaum di hari kiamat, di wajahnya terdapat cahaya laksana mutiara, mereka dikerumuni banyak orang, mereka bukan nabi atau syuhada. Kemudian ada seorang a'rabi (suku pedalaman Arab) datang dengan melangkah menggunakan lututnya: Wahai Rasulullah, terangkan kepada kami tentang mereka agar kami mengenalnya. Rasulullah menjawab: Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, mereka dari suku yang berbeda dan dari negara yang berbeda, mereka berkumpul untuk berdzikir kepada Allah dan mereka mengingat-Nya" (HR al-Thabrani [6])

RUJUKAN :

[1] HR Muslim No 6956, Ahmad No 16960, al-Turmudzi No 3379 dan al-Nasa'i dalam al-Sunan al-kubra VIII/249

[2] HR Muslim No 6954, Ahmad No 9771 dan 11307, al-Turmudzi No 3378 dan Ibnu Majah No 3791

[3] HR al-Bazzar No 6494. Al-Hafidz al-Haitsami berkata: "Di dalam sanadnya ada perawi Zaidah bin Abi Raqad dan Ziyad al-Namiri, keduanya dinilai terpercaya. Sanadnya adalah hasan" (Majma' al-Zawaid X/18). Hadis ini juga dicantumkan oleh al-Haitsami dalam Kasyful Astar 'An Zawaid al-Bazzar III/239.

[4] HR Muslim No 7015 dan al-Hakim No 1821. Ia berkata: Hadis ini sahih, hanya dalam jalur Muslim

[5] HR Ahmad No 12476, al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Ausath No 1556 dan Abu Ya'la No 4141. al-Haitsami berkata: dalam sanadnya ada al-Mar'i, ia dinilai terpercaya oleh banyak ulama, namun ada dlaifnya. Perawi Ahmad lainnya adalah perawi sahih (Majma' al-Zawaid X/17)

[6] HR al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir No 3355. al-Hafidz Al-Haitsami berkata: Diriwayatkan oleh al-Thabrani. Sanadnya hasan (Majma' al-Zawaid X/18)

Wallahu a’lam
 

iklan