iklan banner

Tampilkan postingan dengan label TABARUK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TABARUK. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Mei 2018

TABARRUK PETILASAN SHOLIHIN


TABARRUK (NGALAP BERKAH) 
PETILASAN ORANG SHOLEH

Bertabarruk dengan tempat yang pernah disinggahi oleh orang-orang shalih adalah hal yang dibenarkan dalam agama dengan dalil yang shahih. Perbuatan semacam ini banyak dilakukan oleh banyak sahabat Nabi. Bahkan oleh Nabi sendiri sewaktu dalam perjalanan Isra Mi'raj. Diantaranya hadits-hadits berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: أُتِيْتُ بِدَابَّةٍ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُوْنَ الْبَغْلِ، خَطْوُهَا عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهَا، فَرَكِبْتُ وَمَعِيْ جِبْرِيْلُ عليه السلام فَسِرْتُ فَقَالَ: اِنْزِلْ فَصَلِّ. فَصَلَّيْتُ، فَقَالَ: أَتَدْرِيْ أَيْنَ صَلَّيْتَ؟ صَلَّيْتَ بِطَيْبَةَ وَإِلَيْهَا الْمُهَاجَرُ، ثُمَّ قَالَ: اِنْزِلْ فَصَلِّ. فَصَلَّيْتُ، فَقَالَ: أَتَدْرِيْ أَيْنَ صَلَّيْتَ؟ صَلَّيْتَ بِطُوْرِ سِيْنَاءَ حَيْثُ كَلَّمَ اللهُ مُوْسَى عليه السلام، ثُمَّ قَالَ: اِنْزِلْ فَصَلِّ. فَصَلَّيْتُ، فَقَالَ: أَتَدْرِيْ أَيْنَ صَلَّيْتَ. صَلَّيْتَ بِبَيْتِ لَحْمٍ حَيْثُ وُلِدَ عِيْسَى عليه السلام

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Aku didatangkan hewan di atas keledai dan di bawah bagal. Langkahnya sejauh pandangannya. Lalu aku menaikinya dan Jibril menyertaiku. Aku berangkat lalu Jibril berkata: “Turunlah, lakukan shalat". Lalu aku melakukannya. Ia berkata: “Tahukan kamu di mana kamu menunaikan shalat? Kamu shalat di Thaibah, tempatmu berhijrah". Lalu ia berkata: “Turunlah, lakukanlah shalat". Lalu aku melakukannya. Ia berkata: “Tahukah kamu di mana kamu menunaikan shalat? Kamu shalat di Thur Sina, tempat Allah berbicara kepada Musa 'alaihis salam”. Lalu ia berkata: “Turunlah, lakukanlah shalat”. Lalu aku turun dan melakukan shalat. Ia berkata: “Tahukah kamu di mana kamu shalat? Kamu shalat di Betlehem, tempat Isa 'alaihis salam dilahirkan". (Sunan an Nasai juz 1 hal. 221 no. 450 dan dinyatakan shahih oleh Imam al Baihaqi).

Sahabat 'Itban bin Malik bertabarruk dengan membuat musholla di rumahnya yang pernah digunakan shalat oleh Rasulullah dan Abu Bakar.

أَنَّ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ وَهو مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَنْكَرْتُ بَصَرِي، وَأَنَا أُصَلِّي لِقَوْمِي فَإِذَا كَانَتْ الْأَمْطَارُ سَالَ الْوَادِي الَّذِي بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ لَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ آتِيَ مَسْجِدَهُمْ فَأُصَلِّيَ لَهُمْ، فَوَدِدْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَّكَ تَأْتِي فَتُصَلِّي فِي بَيْتِي فَأَتَّخِذُهُ مُصَلًّى، فَقَالَ: سَأَفْعَلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ. قَالَ عِتْبَانُ: فَغَدَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ حِينَ ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَاسْتَأْذَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذِنْتُ لَهُ، فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى دَخَلَ الْبَيْتَ. ثُمَّ قَالَ لِي: أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ مِنْ بَيْتِكَ؟ فَأَشَرْتُ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنْ الْبَيْتِ. فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَبَّرَ فَصَفَفْنَا فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ

Bahwa 'Itban bin Malik seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang pernah ikut perang Badar dari kalangan Anshar, dia pernah menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: "Wahai Rasulullah, pandanganku sudah buruk sedang aku sering memimpin shalat kaumku. Apabila turun hujan maka air menggenangi lembah yang ada antara aku dan mereka sehingga aku tidak bisa pergi ke masjid untuk memimpin shalat. Aku menginginkan Anda wahai Rasulullah agar dapat mengunjungiku lalu shalat di rumahku yang akan aku jadikan sebagai musholla". Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku akan lakukan insya Allah". 'Itban berkata: "Maka berangkatlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar ketika siang hari, beliau lalu meminta izin dan aku mengizinkannya, beliau tidak duduk hingga beliau masuk ke dalam rumah. Kemudian beliau bersabda: "Mana tempat di rumahmu yang kau sukai untuk aku shalat?" Maka aku tunjukkan tempat di satu sisi rumah. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri lalu takbir. Sementara kami berdiri membuat shaf, beliau shalat dua rakaat kemudian salam". (Shahih al Bukhari juz 1 hal. 92 no. 425).

Juga sahabat Salim bin Abdullah, ayahnya dan Abdullah bin Umar, mereka berhenti untuk shalat di beberapa tempat di tepi jalan karena Rasulullah pernah shalat di tempat tersebut.

عَنْ مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ قَالَ: رَأَيْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَتَحَرَّى أَمَاكِنَ مِنْ الطَّرِيقِ فَيُصَلِّي فِيهَا، وَيُحَدِّثُ أَنَّ أَبَاهُ كَانَ يُصَلِّي فِيهَا، وَأَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي تِلْكَ الْأَمْكِنَةِ. وَحَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي فِي تِلْكَ الامْكِنَة

Dari Musa bin Uqbah ia berkata: “Aku melihat Salim bin Abdullah selalu menuju beberapa tempat di jalan, lalu shalat di sana. Ia bercerita bahwa ayahnya shalat di sana, dan ia melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat di tempat-tempat tersebut. Nafi’ bercerita kepadaku dari Ibnu Umar bahwa ia shalat di tempat-tempat tersebut". (Shahih al Bukhari juz 1 hal. 104 no. 483).

Dan pada keterangan hadits tersebut Al Hafidz imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadits tersebut merupakan hujjah kebolehan bertabarruk dengan atsar (bekas) atau tempat yang pernah disinggahi orang-orang shalih. Wallahu a'lam.

Referensi:

Fathul Bari li Ibni Hajar juz 1 hal. 569
ومحصل ذلك أن ابن عمر كان يتبرك بتلك الأماكن، وتشدده في الاتباع مشهور، ولا يعارض ذلك ما ثبت عن أبيه أنه رأى الناس في سفر يتبادرون إلى مكان فسأل عن ذلك فقالوا: قد صلى فيه النبي صلى الله عليه وسلم فقال: من عرضت له الصلاة فليصل وإلا فليمض، فإنما هلك أهل الكتاب، لأنهم تتبعوا آثار أنبيائهم فاتخذوها كنائس وبيعا، لأن ذلك من عمر محمول على أنه كره زيارتهم لمثل ذلك بغير صلاة أو خشي أن يشكل ذلك على من لا يعرف حقيقة الأمر فيظنه واجبا، وكلا الأمرين مأمون من ابن عمر، وقد تقدم حديث عتبان وسؤاله النبي صلى الله عليه وسلم أن يصلي في بيته ليتخذه مصلى وإجابة النبي صلى الله عليه وسلم إلى ذلك فهو حجة في التبرك بآثار الصالحين

Jumat, 15 Desember 2017

TABARUK KEPADA ORANG SHOLEH



TABARUK (NGALAP BERKAH ) TERHADAP KIAI ATAU ORANG SHOLEH

الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ
“Keberkahan itu terdapat pada orang-orang yang lebih tua (lebih berilmu) dari kalian.” (HR. Ibnu Hibban)

Bertabaruk kepada Rasulullah SAW sudah sangat jelas tuntunanya dalam hadits. Bahkan beberapa sahabat telah mencontohkan berbagai cara untuk bertabaruk kepada Rasulullah SAW.

Ada beberapa hadits yang menjelaskan sifat dan macam-macam tabaruk sahabat kepada Rasul SAW. Ada sahabat yang bertabaruk dengan tubuh Rasul sebagaimana yang dilakukan oleh Aisyah (HR Bukhari-Muslim), rambut Rasul sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Thalhah (HR Muslim), liur Rasul sebagaimana dilakukan Asma binti Abu Bakar (HR Bukhari-Muslim), keringat Rasul sebagaimana yang dilakukan Ummu Salim dan hal itu diafirmasi kebenarannya oleh Rasul (HR Muslim), bahkan barang-barang yang pernah disentuh Rasul pun dijadikan tabaruk oleh sahabat, salah satunya adalah minuman (HR Bukhari dalam Kitab Al-Asyribah).

Tetapi, bolehkah kita menggunakan cara tabaruk yang dilakukan para sahabat kepada Rasulullah SAW dengan tabaruk kita kepada para kiai dan guru-guru kita? Apakah bisa disamakan antara bertabaruk dengan Rasulullah SAW dan bertabaruk (ngalap berkah) dengan orang saleh zaman sekarang seperti kiai? Mengingat derajat antara kiai dan Nabi sangat berbeda jauh.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits di atas merupakan dalil kebolehan untuk tabarruk dengan bekas orang saleh. Tentunya kiai juga merupakan orang saleh. Sah-sah saja kita untuk bertabaruk kepada para kiai sebagaimana para sahabat bertabaruk kepada Rasulullah SAW.

Bahkan Ibnu Hibban dalam Sahih-nya membuat dua bab khusus yang menjelaskan kebolehan bertabaruk dengan orang saleh dan ahli ilmu. Dua bab itu adalah

ذِكْرُ مَا يُسْتَحَبُّ لِلْمَرْءِ التَّبَرُّكُ بِالصَّالِحِينَ، وَأَشْبَاهِهِمْ
Artinya, “Bab menjelaskan kesunahan bagi seseorang untuk bertabaruk dengan orang saleh dan orang yang serupa dengan orang saleh.”

ذِكْرُ إِبَاحَةِ التَّبَرُّكِ بِوَضُوءٍ الصَّالِحِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ إِذَا كَانُوا مُتَّبِعِينَ لَسُنَنِ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya, “Bab menjelaskan tentang kebolehan bertabaruk dengan wudhunya orang saleh yang merupakan bagian dari ahli ilmu jika mereka mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah.”

Dari dua bab di atas, Ibnu Hibban ingin menyebutkan bahwa bertabaruk seperti yang dilakukan oleh para sahabat kepada Rasul itu boleh dilakukan oleh orang lain kepada orang yang saleh asalkan orang tersebut menjalankan sunah-sunah Rasulullah SAW.

Ibnu Hibban dalam bab pertama yang saya sebutkan menjelaskan sebuah hadits tentang anjuran Rasul untuk bertabaruk kepada orang yang lebih tua.

الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ

Artinya, “Keberkahan itu terdapat pada orang-orang yang lebih tua (lebih berilmu) dari kalian.”

Hadits di atas dinyatakan sahih oleh Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak alas Sahihain-nya dan menyatakan bahwa hadits di atas sahih sesuai dengan syarat Bukhari.

Makna lebih tua dalam hadits di atas bukan cukup lebih tua secara umur akan tetapi lebih ahli secara ilmu. Jika ada anak kecil yang lebih berilmu dan mumpuni, maka anak kecil tersebut juga termasuk akabir dalam hadits di atas. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al-Minawi dalam kitab Faidhul Qadir-nya.

Dalam prespektif Ibnu Hibban ini, tentu seorang kiai yang setiap harinya mengajarkan agama dan ilmu-ilmu keislaman kepada para santrinya bisa dikategorikan sebagai orang saleh yang mengikuti sunah Rasul. Dan bukan haram, bidah, bahkan musyrik untuk ngalap barakah kepadanya.

Memang beberapa ulama mengatakan bahwa tabaruk yang dilakukan sahabat kepada Rasul itu tidak bisa disamakan dengan bertabaruk kepada orang saleh lain selain Rasul. Pendapat ulama ini bertujuan untuk berhati-hati agar tidak terjadi perbuatan syirik dan ghuluw (perbuatan kelewat batas). Jika tidak terjadi demikian ketika bertabaruk kepada orang saleh yang lain seperti kiai, maka hal itu tentu diperbolehkan.

Wallahu a’lam.

iklan