iklan banner

Kamis, 08 Desember 2016

MAKSUD BERSHOLAWAT KEPADA NABI

MAKSUD BERSHOLAWAT KEPADA NABI

shalawat merupakan ajuran yang dianjurkan Allah kepada hamba-Nya setelah Allah menganjurkan terlebih dahulu kepada diri-Nya sendiri dan para malaikat untuk berselawat kepada Nabi saw.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (al-Ahzab, 56).

Allah Swt. telah memerintahkan shalat, tetapi Allah mustahil shalat. Allah Swt. memerintahkan zakat, tetapi Allah Swt. tidak zakat. Allah Swt. memerintahkan haji, tetapi Allah Swt. tidak haji. Namun kalau shalawat Nabi, Allah Swt. bershalawat kepada Baginda Nabi Saw. Itulah tingkat perbedaan yang sangat jauh, menunjukkan keistimewaan dan keagungan shalawat.

Kalau Allah dan malaikat bershalawat kepada Nabi saw, maka sudah selayaknya kita sebagai umatnya untuk bershalawat pula kepada beliau. 

Terdapat beberapa versi dikalangan ahli tafsir dalam menafsiri ayat tersebut diatas. Sebagian ahli tafsir meriwayatkan bahwa makna sholawat Allah kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah pujian Allah atas beliau di hadapan para Malaikat-Nya, sedang sholawat Malaikat berarti mendo’akan beliau, dan shalawat ummatnya berarti permohonan ampun bagi beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.

Maksud Allah Swt bersholawat kepada Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam  adalah memuji dan memberi rahmat kepada Rasulullah Saw. Karena Rasulullah adalah makhluk yang paling mulia dan paling taat kepada Allah Swt.

Kenapa redaksi pada ayat memakai “’ala an-Nabiy”, bukan “‘ala Muhammad”? Karena yang dijunjung oleh Allah adalah pangkatnya Kanjeng Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam. AllahTa’ala memberikan contoh langsung kepada hambaNya tentang bgaimana memberikan penghargaan kepada Nabi NYA,  dengan tidak mengucapkan namanya saja (Muhammad), akan tetapi dengan pangkatnya.

Dan shalawatnya Allah Ta’ala bukan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad”, tetapi rahmatan maqrunatan bita’dzimin (rahmat kasih sayang yang dibarengi dengan pengagungan). Maksudnya, Allah memberi shalawat kepada Nabi Saw. bukan sejak beliau diangkat menjadi Nabi, tetapi sudak sejak zaman azali.


Sedangkan kalimat “yushalluna ‘ala an-Nabiy”, bukan menggunakan kalimat madhi (masa lampau) tetapi mudhari’ (masa sekarang dan seterusnya). Yushalluna di sini masuk ke dalam fi'il mudhari' atau present tense di dalam bahasa Inggris, yang mengandung arti senantiasa (sedang dan seterusnya) bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Artinya rahmat Allah Swt. kepada Kanjeng Nabi Saw. sampai besok di akherat.

Ayat itu juga merupakan bentuk kemuliaan yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Kemuliaan yang membedakan beliau dengan makhluk yang lain. Segala sesuatu yang diciptakan Allah tidak diciptakan percuma, semuanya juga memiliki kelebihan tersendiri, yang membedakan satu dengan yang lain. Maka tidak mustahil kalau Allah memberi kemuliaan (perintah shalawat) ini kepada Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam.

Sholat dalam bahasa artinya do’a. Jadi shalawat kepada Nabi saw, keluarga dan sahabat beliau berarti medoakan mereka agar Allah senantiasa memberikan rahmat dan salam Nya kepada mereka yang tidak terputus putus. Bahkan bershalawat kepada Nabi saw dan keluarga beliau merupakan hal yang wajib dilakukukan dalam setiap sholat. Tidak sah sholat seseorang tanpa bershalawat kepada Nabi saw dan keluarganya.  

Di lain fihak ada lagi yang mengatakan bahwa shalawat kepada Nabi saw berarti kita sedang menyambung hubungan atau ikatan cinta dengan beliau. Semakin banyak kita bershalawat kepada Nabi saw semakin kuat hubungan dan ikatan cinta kita kepada beliau, dan semakin banyak pula rahmat dan barokah dari Allah akan turun kepada kita. Maka dari itu kita diajurkan disaat bershalawat jangan hanya sekedar mengucapkan, tapi kita harus tanamkan di diri kita hubungan pendekatan kecintaan kita kepada Nabi saw agar berkat shalawat semua keinginan kita bisa dikabulkan.

Begitu pula jika kita ingin mengadakan hubungan dengan Allah, harus dengan shalawat. Yang dimaksudkan disini bukan membaca shalawat kepada Allah tapi melakukan shalawat atau mendirikan shalat-shalat yang diwajibkan dan yang disunahkan. Semakin banyak kita shalat, semakin kuat hubungan dan ikatan kita dengan Allah dan semakin banyak rahmat dan berkat turun dari Allah. Sholat atau doa kita akan didengar. Karena dalam shalat berarti kita berada dalam posisi berhadapan secara langsung dan berbicara dengan Allah.

Sudah barang tentu dalam mengucapkan shalawat kepada Nabi Sholllallahu alaihi wasallam harus disertai pula  dengan bershalawat kepada keluarga dan para sahabatnya. Yang dimaksud keluarganya adalah mereka yang mempunyai tali hubungan karabat dengan beliau. Dan sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang pernah melihat Nabi saw, beriman dengan ajaran yang dibawa Nabi saw dan wafat tetap dalam keadaan keimanan.


Wallahu a’lam

Rabu, 07 Desember 2016

NABI MUHAMMAD SHOLLALLAHU ALAIHI WA SALLAM SENANTIASA MENDAMPINGI UMATNYA

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَوْفٍ حَدَّثَنَا الْمُقْرِئُ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ عَنْ أَبِي صَخْرٍ حُمَيْدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قُسَيْطٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Auf], telah menceritakan kepada kami [Al Muqri`], telah menceritakan kepada kami [Haiwah], dari [Abu Shakhr Humaid bin Ziyad] dari [Yazid bin Abdullah bin Qusaith] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Tidaklah seseorang memberikan salam kepadaku melainkan Allah akan mengembalikan nyawaku hingga aku membalas salamnya.“ (HR. Imam Abu Dawud Hadits No. 1745)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

حياتي خير لكم ومماتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم , تعرض أعمالكم عليّ فإن وجدت خيرا حمدت الله و إن وجدت شرا استغفرت الله لكم.

Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bercakap-cakap dan mendengarkan percakapan. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah buat kalian.” (Hadits ini diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam. Al Haitsami menyebutkannya dalam Majma’u al Zawaaid dan mengkategorikannya sebagai hadits shahih)

Dalam sebuah hadis sahih ditegaskan:

" وَالَّذِي نَفْسُ أَبِي الْقَاسِمِ بِيَدِهِ لَيَنْزِلَنَّ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ إِمَامًا مُقْسِطًا وَحَكَمًا عَدْلًا ، فَلَيَكْسِرَنَّ الصَّلِيْبَ وَلَيَقْتُلَنَّ الْخِنْزِيْرَ وَلَيُصْلِحُنَّ ذَاتَ الْبَيِّنِ وَلَيُذْهِبَنَّ الشَّحْنَاءَ وَلَيُعْرَضَنَّ عَلَيْهِ الْمَالُ فَلَا يَقْبَلُهُ ، ثُمَّ لَئِنْ قَامَ عَلَى قَبْرِي فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ لَأَجَبْتُهُ " .

Demi Allah yang jiwa Muhammad (Abu al-Qasim) berada dalam kuasa-Nya. Sungguh Isa akan turun sebagai imam dan hakim yang adil. Ia akan menghancurkan salib, akan membunuh babi, akan memperbaiki pertikaian, akan menghilangkan kebencian, dan ia akan ditawarkan harta, namun ia tidak menerimanya. Sungguh jika ia berdiri di atas kuburku, lalu berkata: “Ya Muahammad”, Maka sungguh aku akan menjawabnya” 
(HR Abu Ya’la, al-Hafidz al-Haitsami berkata: “Para perawinya adalah sahih”. )

Telah nyata bahwa Nabi Muhammad Saw memiliki kehidupan barzakh yang lebih sempurna dan lebih agung melebihi orang lain. Fakta ini diceritakan sendiri oleh beliau. Kehidupan barzakh beliau ini menunjukkan adanya relasi beliau dengan ummat, beliau mengetahui keadaan mereka, melihat amal perbuatan mereka, mendengar ucapan mereka dan menjawab salam mereka. 

Pengenalan kepada Rosulullan (ma’rifah) dan rasa cinta mendalam (mahabbah) membanguun dalam jiwa mu’minin hubungan batin yang sangat kuat (rabithah) kepada Rosulullah shallallahu alaihi wasallam. Sehingga kita akan merasakan kehadiran beliau setiap saat dalam kehidupan kita dan menimbulkan semangat untuk senantiasa mengikuti risalah Rosulullah shollallahu alaihi wasallam dalam bentuk yang sempurna (al ittiba’ al kamal)


Wallahu a’lam

Sabtu, 26 November 2016

DALIL MAULID NABI (03)

DALIL MAULID 03 :
Pemaparan Kisah Rasul adalah Peneguh Iman dalam Hati.

Allah Yang Maha Tinggi berfirman :

وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Hud [11] : 120)


Dan sini tampák bahwa hikmah pemaparan kisah para Nabi alaihis sallam adalah untuk meneguhkan hati beliau yang mulia. Dan tak diragukan làgi bahwa sekarang kita lebih membutuhkan peneguhan hati dengan kisah Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam, lebih dari beliau sendiri. 

Kamis, 24 November 2016

DALIL MAULUD NABI (02)

 DALIL MAULUD NABI (02)
ALLAH SWT. MEMERINTAHKAN UNTUK BERGEMBIRA ATAS KELAHIRAN NABI SAW.

Kegembiraan karena hadirnya beliau saw. adalah suatu yang diperintahkan oleh Alqur’an, Allah Yang Maha Tinggi berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya: “ Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".”. (Q.S. Yunus [10] : 58)

Allah Yang Maha Tinggi menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi saw.adalah rahmat Allah yang paling agung. Allah berfirman:

Hal ini diperkuat oleh penafsiran dan seorang yang paling luas ilmunya diantara umat ini dan penerjemah (ahli tafsir) Alqur’an, yakni Al-Imam Ibnu Abbas ra tentang ayat ke-58 Surat Yunus tersebut diatas. Ia berkata: “Yang dimaksud dengan kurnia Allah adalah ilmu, dan yang dimaksud dengan rahmat-Nya’ ialah Muhammad saw. Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
‘Dan tiadalah kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. Al Anbiya [21] : 107

Maka kegembiraan karena Rasülullâh saw. dianjurkan pada setiap waktu, dalam setiap nikmat, dan pada setiap kurnia. Akan tetapi lebih dianjurkan pada setiap Hari Senin dan setiap Bulan Rabi’ul Awwal, karena kuatnya suasana Maulid dan memperhatikan waktu. Dan telah maklum bahwa tidaklah lalai dari peringatan itu dan berpaling dari peringatan tersebut pada waktunya kecuali orang yang lalai lagi dungu.

Penghormatan kepada beliau saw. adalah sesuatu yang disyari’atkan dan bergembira dengan hari kelahiran beliau yang mulia dengan menampakkan kegembiraan dan membuat acara jamuan dan perkumpulan majlis zikir serta memuliakanorang-orang fakir termasuk sebagian dan perwujudan yang paling agung dan rasa penghormatan, kebahagiaan, kegembiraan, dan syukur kepada Allah atas petunjuk-Nya kepada Agama yang Lurus yang telah diberikan kepada kita, dan atas kurnia-Nya kepada kita yaitu diutusnya Nabi Muhammad saw.


Senin, 21 November 2016

BERJAMAAH DENGAN MAKMUM SATU ORANG

BERJAMAAH DENGAN MAKMUM SATU ORANG

Bila jamaah shalat hanya terdiri dari seorang imam dan seorang makmum, maka posisi makmum di sebelah kanan imam. Namun lebih afdhalnya sedikit di belakang, untuk menghindari kemungkinan posisi makmum melewati posisi imam.

HADITS 01 : Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata:

‏بِتٌّ عند خَالَتِيْ ميمونةَ فقام النبيُّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم يصلِّي من الليلِ فقمتُ أُصَلِّيْ معه فقمت عن يسارهِ فأخذَ بِرَأْسِيْ وَأَقَامَنِيْ عن يَّمِيْنِهِ

Saya pernah bermalam di kediaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam suatu malam, waktu itu beliau di rumah Maimunah radliyallahu anha. Beliau bangun dan waktu itu telah habis dua pertiga atau setengah malam, kemudian beliau pergi ke tempat yang ada padanya air, aku ikut berwudlu bersamanya, kemudian beliau berdiri dan aku berdiri di sebelah kirinya maka beliau pindahkan aku ke sebelah kanannya. (HR. Bukhari 726, Muslim 763).


HADITS 02 : hadits Jabir :

قام رَسُولُ اَللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم ليصلِّي فَجِئْتُ فقمتُ على يسارهِ فأخذَ بيدى فأدارني حتى أَقَامَنِيْ عن يَّمِيْنِهِ ثم جاء جابر بن صخر فقام عن يسارهِ رَسُولُ اَللَّهِصلى اللَّه عليه وآله وسلم فأخذ بأيدينا جميعا فذفعنا حتى أَقَامَنَا خلفهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri shalat, kemudian aku datang, lalu aku berdiri disebelah kirinya, maka beliau memegang tanganku, lantas ia memutarkan aku sehingga ia menempatkan aku sebelah kanannya. Kemudian datang Jabbar bin Shakr yang langsung ia berdiri di sebelah kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau memegang tangan kami dan beliau mendorong kami sehingga beliau mendirikan kami dibelakangnya”. [Shahih Riwayat Muslim & Abu Dawud]

PENJELASAN FUQOHA (ULAMA AHLI FIQIH)

1. IMAM SYAFI’I dalam kitab Al-Umm berkata :

وإذا أم رجل رجلا واحدا أقام الإمام المأموم عن يمينه وإذا أم خنثى مشكلا أو امرأة قام كل واحد منهما خلفه لا بحذائه وإذا أم رجل رجلا فوقف المأموم عن يسار الإمام أو خلفه كرهت ذلك لهما ولا إعادة على واحد منهما وأجزأت صلاته

Apabila seorang laki-laki mengimami seorang laki-laki, maka imam itu hendaknya memerintahkan makmum berdiri pada sisi kanannya.

Apabila seorang laki-laki mengimami seorang banci atau seorang wanita, maka masing-masing dari keduanya berdiri di belakang imam dan tidak sejajar dengan imam.

Apabila seorang laki-laki mengimami seorang laki-laki, lalu makmum itu berdiri di sebelah kiri imam atau di belakangnya, maka saya memandangnya makruh. Namun apabila ia melakukannya, maka ia tidak harus mengulangi dan shalatnya telah memadai.
[Al-Umm 1, 248, Rongkasan Kitab Al-Umm 1, hal.241]

2. IBNU RUSYD dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :

وسنة الواحد عند الجمهور أن يقف عن يمين الإمام لحديث ابن عباس حين بات عند ميمونة. وقال قوم: بل عن يساره، ولا خلاف في أن المرأة الواحدة تصلي خلف الإمام، وأنها إن كانت مع الرجل صلى الرجل إلى جانب الإمام والمرأة خلفه

Untuk makmum yang hanya seorang disunatkan di sebelah kanan agak ke belakang. Ini menurut jumhur fuqaha. Alasannya adalah hadits Ibnu Abbas, tatkala ia menginap di rumah Maimunah. Tetapi menurut sebagian fuqaha disunatkan berdiri di sebelah kiri agak ke belakang.

Tentang wanita yang menjadi makmum sendirian, ia berdiri di belakang imam laki-laki. Masalah ini sudah tidak diperdebatkan lagi. Apabila seseorang wanita berjamaah dengan seorang laki-laki, maka makmum laki-laki-laki tadi berdiri di sebelah kanan imam dan seorang wanita berdiri di belakang makmum laki-laki.  [Bidayatul Mujtahid 1, ha. 334].

3. ZAINUDIN BIN ABDUL AZIZ AL-MALIBARI AL-FANANI berkata dalam kitab Fathul Mu’in :

(وندب وقوف ذكر) ولو صبيا لم يحضر غيره، (عن يمين الامام) وإلا سن له تحويله - للاتباع - (متأخر) عنه (قليلا)، بأن تتأخر أصابعه عن عقب إمامه. وخرج بالذكر الانثى، فتقف خلفه، مع مزيد تأخر

Makmum laki-laki disunatkan berdiri di sebelah kanan imam, walaupun makmum itu anak-anak, kalaupun tidak terdapat makmum orang dewasa. Kalau tidak demikian disunatkan kepada imam (meskipun sedang salat) mengalihkan makmum kea rah kanannya, karena ittiba’ kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan ke belakang sedikit dengan cara jari kaki makmum mundur sedikit dari tumit imamnya. Kecuali bagi wanita, ia mesti berdiri di belakang imam dengan sedikit mundur (walaupun sendirian).

(فإن جاء) ذكر (آخر، أحرم عن يساره)، ويتأخر قليلا، (ثم) بعد إحرامه (تأخرا) عنه ندبا، في قيام أو ركوع، حتى يصيرا صفا وراءه

Apabila datang laki-laki yang lainnya, bertakbiratul ihramlah ia di sebelah kiri imam dan mundur sedikit, kemudian setelah takbiratul ihram itu kedua-duanya sunat mundur ke belakang, di kala imam berdiri atau rukuk, sehingga membentuk barisan di belakang imam. Sebagaimana hadits dari Jabir.

 (و) وقوف (رجلين) جاءا معا (أو رجال) قصدوا الاقتداء بمصل (خلفه) صفا

Kebalikan dari cara itu ialah : Jika makmum yang di sebelah kanan imam itu mundur sebelum makmum yang kedua takbiratul ihram, atau kedua-duanya tidak mundur, atau mundur bukan di kala imam berdiri atau rukuk, hukumnya makruh dan dapat menghilangkan pahala berjamaah. Kecuali kalau imam yang maju, maka hukumnya diperbolehkan.
[Fathul Mu’in 1, hal. 382-384].


Wallahu a’lam

iklan