iklan banner

Senin, 08 Januari 2018

DZIKRULLAH MENUTUP KEKURANG SEMPURNAAN IBADAH


DZIKRULLAH MENUTUP KEKURANG SEMPURNAAN IBADAH


عَنْ اِبْنِ عَبَّاشٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ عَجِزَ مِنْكُمْ عَنِ اللَّيْلِ أَنْ يُكَابِدَهُ وَبَحِلَ بِالْمَالِ أَنْ يُنْفِقَهُ وَجَبُنَ عَنِ الْعَدُ وِّ أَنْ يُجَاهِدَهُ فَلْيُكْثِرْ ذِكْرَ اللَّهُ
(رواه اطبراني وَالبيهقي وَالبزار) 
MAN ‘AJIZA MINKUM ‘ANIL LAYLI AN YUKAABIDAHU, WA BAKHILA BIL MAALI  AN YUNFIQOHU, WA JABUNA ‘ANIL ‘ADUWWI AN YUJAHIDAHU, FAL YUKTSIR DZIKROLLOHU 

Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, Rosulallah shollallahu alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa diantara kalian yang tidak dapat beribadah pada malam hari karena malas, dan tidak dapat menginfaqkan hartanya kareni kikir, dan tak dapat berjihad karena takut, maka perbanyaklah Dzikrullah”. (HR. Thobrony, Al Baihaqi , Al Bazzar)

FAEDAH :

Kita menyadari masih banyak kesalahan-kesalahan dalam ibadah kita. Kelalaian dan kemalasan menyebabkan ketidaksempurnaan dalam ibadah. Dorongan nafsu sesat dan bisikan setan akan menimbulkan kemalasan dan was-was dalam peribadatan. Dzikir akan menutupi kekurangan dan kesalahan-kesalahan dalam ibadah.

Ketika setan menggoda manusia, akan menyelubungi hati manusia dan menyuntikkan racun kemaksiatan kedalamnya. Kecuali ketika manusia berdzikir maka setan akan meninggalkannya dalam rasa hina dan rendah.

Usaha untuk menguatkan hati guna mengokohkan iman yaqin sangat penting di zaman yang penuh fitnah. Kerusakan hati yang parah akibat bercokolnya penyakit hati dan gemilang dosa. Usaha untuk menyembuhkannya sangatlah penting, dengan dzikrullah memasukkan keagungan ilahi akan menyembuhkan dan mengeluarkan penyakit dan kotoran jiwa. Demikian pula akan memperkuat benteng perlindungan dari bisikan-bisikan setan dan akan menghalangi menjalarnya penyakit hati.

Dzikrullah akan mengokohkan iman yaqin, membebaskan dari sifat-sifat munafik dan menjadi benteng dari godaan setan.

Para sahabat rodhiyallahu anhum  mencapai derajat kemuliaan yang tinggi disisi Allah. Nabi shollallahu alaihi wasallam tak pernah memaksa para sahabat dalam beribadah. Tumbuh kesadaran dan kecintaan ibadah dari lubuk hati mereka. Hal tersebut dikarenakan kuatnya iman yaqin dihati mereka. Rahasia kekuatan hati para sahabat adalah dzikrullah. Oleh karenanya para ulama menganjurkan agar melatih diri dalam dzikrullah agar mampu melawan was-was setan dan membersihkan hati dari penyakit, serta mengokohkan iman yaqin.

Wallahu a’lam.



NABI MUHAMMAD ADALAH RAHMATAN LIL 'ALAMIN



 PENCIPTAAN NABI MUHAMMAD SAW ADALAH RAHMATAN LIL ALAMIN

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam diutus dengan membawa ajaran Islam, maka Islam adalah rahmatan lil’alamin, Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia.

Islam adalah agama rahmatan lil’alamin. Islam adalah agama perdamaian, yang sangat toleran, penuh dengan kelembutan serta kasih sayang dan tidak mungkin menebarkan kekerasan, terorisme, kebencian dan lain sebagainya.

Firman Allah ta’ala :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

PENGERTIAN RAHMATAN LIL’ALAMIN MENURUT BAHASA.

Berikut adalah arti rahmatan lil’alamin jika ditinjau dari segi bahasa (arab)
الرَّحْمة: الرِّقَّةُ والتَّعَطُّفُ
rahmat artinya kelembutan yang berpadu dengan rasa iba (Lihat Lisaanul Arab, Ibnul Mandzur).

Dalam konteks penggunaan istilah ini Ar-Raghib al-Ashfahani menguraikan bahwa ar-rahmah kadang berkonotasi al-riqqah (kelembutan) atau berkonotasi al-ihsân (kebajikan); [1] atau al-khayr (kebaikan) dan an-ni’mah (kenikmatan). Karena itu kata ini termasuk ke dalam lafal yang berserikat di dalamnya lebih dari satu makna (lafzh musytarak) [2] Pemaknaannya ditentukan oleh indikasi lainnya [3]

Dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Dengan demikian Rahmatan lil’alamin secara bahasa adalah kasih sayang bagi seluruh alam. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.

PENAFSIRAN RAHMATAN LIL’ALAMIN MENURUT PARA AHLI TAFSIR

Makna Rahmatan Lil’Alamin Menurut Ibnu Katsir, berikut adalah kutipan isi tafsir Ibnu Katsir, surat Al-Anbiya ayat 107. Pada ayat ini (QS. Al Anbiya: 107) Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada kita bahwa Dia telah menciptakan Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Salam  sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), artinya, Dia mengirimnya sebagai rahmat untuk semua orang. Barangsiapa menerima rahmat ini dan berterima kasih atas berkah ini, dia akan bahagia di dunia dan akhirat. Namun, barangsiapa menolak dan mengingkarinya, dunia dan akhirat akan lepas darinya, seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُواْ نِعْمَتَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّواْ قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ – جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah (perintah-perintah dan ajaran-ajaran Allah) dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS. Ibrahim:28-29)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala befirman dalam Al Qur’an:

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدًى وَشِفَآءٌ وَالَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ فِى ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُوْلَـئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍ بَعِيدٍ
“Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quraan itu suatu kegelapan bagi mereka (tidak memberi petunjuk bagi mereka). Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (QS. Fushshilat:44)

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya: Ibnu Abi‚ Umar telah menceritakan ke kami, Marwan Al-Fayari menceritakan ke kami, dari Yazid bin Kisan, dari Ibnu Abi Hazim bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, bahwa telah dikatakan, “Wahai Rasulullah, berdoalah menentang kaum Musyrikin.”
Beliau berkata:
إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَة
“Saya tidak dikirim sebagai kutukan, melainkan sebagai rahmat.”

Berdasarkan riwayat-riwayat dan para ahli Tafsir menjelaskan bahwa penciptaan Nabi Muhammad SAW adalah Rahmatan Lil Alamin bagi semua umat manusia.

Wallahu a’lam

Jumat, 05 Januari 2018

Wali Songo Syuro Dakwah Nusantara



WALISONGO ADALAH SYURO DA'WAH PARA ULAMA

Menurut buku Haul Sunan Ampel Ke-555 yang ditulis oleh KH. Mohammad Dahlan, majelis dakwah (syuro da’wah) yang secara umum dinamakan Walisongo, sebenarnya terdiri dari beberapa angkatan. Para Wali Songo tidak hidup dalam suatu masa. Namun demikian, diantara kesembilan wali ini, mereka semua mempunyai sebuah bentuk ikatan yang amat erat, jika tiada hubungan darah diantara mereka, pasti ada hubungan diantara Guru dan Murid. Bila ada seorang anggota majelis syuro yang wafat, maka posisinya digantikan oleh tokoh lainnya:

Angkatan ke-1 (1404 – 1435 M), terdiri dari :
1.       Maulana Malik Ibrahim (wafat 1419),
2.       Maulana Ishaq,
3.       Maulana Ahmad Jumadil Kubro,
4.       Maulana Muhammad Al-Maghrabi,
5.       Maulana Malik Isra'il (wafat 1435),
6.       Maulana Muhammad Ali Akbar (wafat 1435),
7.       Maulana Hasanuddin,
8.       Maulana 'Aliyuddin,
9.       dan Syekh Subakir atau juga disebut Syaikh Muhammad Al-Baqir.

Angkatan ke-2 (1435 - 1463 M), terdiri dari  :
1.       Sunan Ampel yang tahun 1419 menggantikan Maulana Malik Ibrahim,
2.       Maulana Ishaq (wafat 1463),
3.       Maulana Ahmad Jumadil Kubro,
4.       Maulana Muhammad Al-Maghrabi,
5.       Sunan Kudus yang tahun 1435 menggantikan Maulana Malik Isra’il,
6.       Sunan Gunung Jati yang tahun 1435 menggantikan Maulana Muhammad Ali Akbar,
7.       Maulana Hasanuddin (wafat 1462),
8.       Maulana 'Aliyuddin (wafat 1462),
9.       dan Syekh Subakir (wafat 1463).

Angkatan ke-3 (1463 - 1466 M), terdiri dari :
1.       Sunan Ampel,
2.       Sunan Giri yang tahun 1463 menggantikan Maulana Ishaq,
3.       Maulana Ahmad Jumadil Kubro (wafat 1465),
4.       Maulana Muhammad Al-Maghrabi (wafat 1465),
5.       Sunan Kudus,
6.       Sunan Gunung Jati,
7.       Sunan Bonang yang tahun 1462 menggantikan Maulana Hasanuddin,
8.       Sunan Derajat yang tahun 1462 menggantikan Maulana ‘Aliyyuddin, dan
9.       Sunan Kalijaga yang tahun 1463 menggantikan Syaikh Subakir.

Angkatan ke-4 (1466 - 1513 M), terdiri dari :
1.       Sunan Ampel (wafat 1481),
2.       Sunan Giri (wafat 1505),
3.       Raden Fattah yang pada tahun 1465 mengganti Maulana Ahmad Jumadil Kubra,
4.       Fathullah Khan (Falatehan) yang pada tahun 1465 mengganti Maulana Muhammad Al-Maghrabi,
5.       Sunan Kudus,
6.       Sunan Gunung Jati,
7.       Sunan Bonang,
8.       Sunan Derajat,
9.       dan Sunan Kalijaga (wafat 1513).

Angkatan ke-5 (1513 - 1533 M), terdiri dari :
1.       Syekh Siti Jenar yang tahun 1481 menggantikan Sunan Ampel (wafat 1517),
2.       Raden Faqih Sunan Ampel II yang ahun 1505 menggantikan kakak iparnya Sunan Giri,
3.       Raden Fattah (wafat 1518),
4.       Fathullah Khan (Falatehan),
5.       Sunan Kudus (wafat 1550),
6.       Sunan Gunung Jati,
7.       Sunan Bonang (wafat 1525),
8.       Sunan Derajat (wafat 1533), dan
9.       Sunan Muria yang tahun 1513 menggantikan ayahnya Sunan Kalijaga.

Angkatan ke-6 (1533 - 1546 M), terdiri dari : 
1.       Syekh Abdul Qahhar (Sunan Sedayu) yang ahun 1517 menggantikan ayahnya Syekh Siti Jenar,
2.       Raden Zainal Abidin Sunan Demak yang tahun 1540 menggantikan kakaknya Raden Faqih Sunan Ampel II,
3.       Sultan Trenggana yang tahun 1518 menggantikan ayahnya yaitu Raden Fattah,
4.       Fathullah Khan (wafat 1573),
5.       Sayyid Amir Hasan yang tahun 1550 menggantikan ayahnya Sunan Kudus,
6.       Sunan Gunung Jati (wafat 1569),
7.       Raden Husamuddin Sunan Lamongan yang tahun 1525 menggantikan kakaknya Sunan Bonang,
8.       Sunan Pakuan yang tahun 1533 menggantikan ayahnya Sunan Derajat,
9.       dan Sunan Muria (wafat 1551).

Angkatan ke-7 (1546- 1591 M) terdiri dari
1.       Syaikh Abdul Qahhar (wafat 1599),
2.       Sunan Prapen yang tahun 1570 menggantikan Raden Zainal Abidin Sunan Demak,
3.       Sunan Prawoto yang tahun 1546 menggantikan ayahnya Sultan Trenggana,
4.       Maulana Yusuf cucu Sunan Gunung Jati yang pada tahun 1573 menggantikan pamannya Fathullah Khan,
5.       Sayyid Amir Hasan, Maulana
6.       Hasanuddin yang pada tahun 1569 menggantikan ayahnya Sunan Gunung Jati,
7.       Sunan Mojoagung yang tahun 1570 menggantikan Sunan Lamongan,
8.       Sunan Cendana yang tahun 1570 menggantikan kakeknya Sunan Pakuan,
9.       dan Sayyid Shaleh (Panembahan Pekaos) anak Sayyid Amir Hasan yang tahun 1551 menggantikan kakek dari pihak ibunya yaitu Sunan Muria.

Angkatan ke-8 (1592- 1650 M), terdiri dari :
1.       Syaikh Abdul Qadir (Sunan Magelang) yang menggantikan Sunan Sedayu (wafat 1599),
2.       Baba Daud Ar-Rumi Al-Jawi yang tahun 1650 menggantikan gurunya Sunan Prapen,
3.       Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) yang tahun 1549 menggantikan Sultan Prawoto,
4.       Maulana Yusuf,
5.       Sayyid Amir Hasan,
6.       Maulana Hasanuddin,
7.       Syekh Syamsuddin Abdullah Al-Sumatrani yang tahun 1650 menggantikan Sunan Mojoagung,
8.       Syekh Abdul Ghafur bin Abbas Al-Manduri yang tahun 1650 menggantikan Sunan Cendana,
9.       dan Sayyid Shaleh (Panembahan Pekaos).

RUJUKAN :
·         Babad Tanah Jawi
·         Mantan Mufti Johor Sayyid `Alwî b. Tâhir b. `Abdallâh al-Haddâd (meninggal tahun 1962) juga meninggalkan tulisan yang berjudul Sejarah perkembangan Islam di Timur Jauh (Jakarta: Al-Maktab ad-Daimi, 1957). Ia menukil keterangan diantaranya dari Haji `Ali bin Khairuddin, dalam karyanya Ketrangan kedatangan bungsu (sic!) Arab ke tanah Jawi sangking Hadramaut.
·         Al-Jawahir al-Saniyyah oleh Sayyid Ali bin Abu Bakar Sakran
·         'Umdat al-Talib oleh al-Dawudi
·         Syams al-Zahirah oleh Sayyid Abdul Rahman Al-Masyhu


Dalam pertemuannya dengan Sultan Muhammad I (Raja Turki) saat itu, Sayyid Jumadil Kubro mengusulkan agar Sultan Muhammad I mengundang beberapa Ulama dari wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara yang memiliki karomah besar untuk diajak musyawarah membahas kegiatan dakwah Islam dan pengembangannya di Pulau Jawa.

Setelah mendengar dan memperhatikan cerita pengalaman dan temuan Sayyid Jumadil Kubro tentang situasi dan keadaan agama Islam di daerah Pulau Jawa, Akhirnya disepakati bahwa untuk melakukan kegiatan dakwah ke Pulau Jawa ditunjuk dan ditugaskan 9 (Sembilan) orang Ulama (Auliya’) dengan berbagai keahliannya masing-masing.

Sembilan orang itu akan dibagi jadi tiga bagian, Jawa Timur tiga orang Ulama, Jawa Tengah tiga orang Ulama, Jawa Barat tiga orang Ulama, dengan masa bhakti satu abad (seratus tahun) apabila terjadi ada yang wafat atau pindah dari Pulau Jawa harus mengadakan rapat untuk mencari penggantinya. Kesembilan Ulama tersebut selanjutnya dilembagakan dan ditetapkan dengan sebutan WALI SONGO yang untuk pertama kalinya beranggotakan Sembilan Ulama.

Dari Sembilan Ulama (Wali Songo) generasi pertama ini yang ditunjuk sebagai pemimpin atau Mufti adalah Maulana malik Ibrahim yang bertempat tinggal di Gresik.

Sembilan Ulama Wali Songo diberangkatkan oleh Sultan Muhammad I dari Turki ke Pulau Jawa pada tahun 1404 M dengan mengendarai kapal dagang dan membawa barang dagangan yang diperkirakan laku diperdagangkan di Pulau Jawa.

Dalam Kitab TARIKHUL AULIA’ karangan Syeikh Maulana Murodi bin Abdulloh bin Husain bin Ibrohim Al-Asy’ari, Rombongan dakwah ulama tersebut  mulai dari priode yang pertama sampai yang ke lima semuanya diberi BAYAN HIDAYAH di Masjid Nabawi Madinatul Munawwaroh al Arobiyyah Saudiyyah, sedangkan rombongan yang seterusnya sudah tidak di Bayan Hidayah di Masjid Nabawi lagi. Di Kesultanan Demak sudah di dirikan Masjid Demak  yang menjadi Markaz Dewan Syuro Dakwah.








Banyak sekarang yang meragukan keberadaan walisongo bahkan menganggapnya sebagai mitos belaka. Padahal banyak fakta sejarahnya, berupa mentifact (peninggalan tata nilai), Artefact (peninggalan bendawi), sosiofact (fakta sosial keberadaan sejarah) serta catatan tertulis telah menunjukkan kebenaran keberadaan walisongo.

Ini sedikit pengalaman pribadi yang bagi saya menguatkan akan keberadaan walisongo.

Tapi berdasar penuturan kakek saya, bahwa buyut dan canggah saya bukan dari tanah jawa tapi dari hadramaut yang datang ke Jawa (demak) dan menjalankan misi sebagaimana leluhur kami mendakwahkan agama. Dikalangan keluarga besar saya mbah buyut saya mbah kaji dahlan bin abdul qodir kegiatan kesehariannya berpindah-pindah mengikuti rombongan para kyai pindah ke desa-desa mendakwahkan agama, sinambi berdagang untuk bekal dakwahnya. Artinya rombongan dakwah para ulama itu memang diprogramkan dalam program dakwah rutin dan terstruktur

Bahkan di sekitar Njimbung klaten ketika saya keluar bersama rombongan dakwah disana, dikenal ada suatru desa yang namanya GEDOGAN (tempat penambatan kuda/ kandang jaran). Dikenal oleh masyarakatnya asal muasal penamaan desanya (saya  sempat tanya) bahwa  dinamakan GEDOGAN karena dahulu desa tersebut merupakan tempat persinggahan rombongan dakwah para ulama utusan dari kesultanan Demak, menaiki kudanya dan ditambatkan didesa tersebut sebelum rombongan berjalan kaki dakwah ke desa-desa sekitar. Jadi musyawarah dakwah dan program dakwah yang dimusyawarahkan dari masjid Demak telah dikenal dan dijalankan.

 Wallahu a’lam

iklan