Aswaja: Ahlussunnah Wal Jamaah, Siapa Mereka?
Maulana Ali Jumah pada Pembukaan Muktamar Ulama Aswaja Dunia Yang berlansung di Chechnya 25 Agustus 2016.
Para hadirin sekalian, di hadapan Grand Shaikh Al-Azhar, Imam Ahlussunnah Wal Jamaah. Saya berkata kepada kalian semua:
Assalāmu’alaikum Wr. Wb.
Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) membedakan antara teks wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah), penafsiran dan penerapannya. Dalam upaya melakukan tahqīq manāth (memastikan kecocokan sebab hukum pada kejadian) dan takhrīj manāth (memahami sebab hukum). Metodologi inilah yang melahirkan Aswaja.
Aswaja adalah mayoritas umat Islam sepanjang masa dan zaman. Sehingga golongan lain menyebut mereka dengan sebutan: “Al-‘Āmmah (orang-orang umum) atau Al-Jumhūr”, karena lebih dari 90% umat Islam adalah Aswaja.
Mereka mentransmisikan teks wahyu dengan sangat baik. Mereka menafsirkannya, menjabarkan yang mujmal (global), kemudian memanifestasikannya dalam kehidupan dunia ini. Sehingga mereka memakmurkan bumi dan semua yang berada di atasnya.
Aswaja adalah golongan yang menjadikan hadis Jibrīl yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahīh-nya. Sebagai dalil pembagian pilar (rukun) agama menjadi tiga: Iman, Islam dan Ihsan. Untuk kemudian membagikan ilmu kepada tiga ilmu utama. Yaitu: akidah, fikih dan suluk (tasawuf). Setiap imam dari para imam Aswaja telah melaksanakan tugas sesuai bakat yang Allah berikan.
Mereka bukan hanya memahami teks wahyu saja. Tapi mereka juga menekankan pentingnya memahami realitas kehidupan. Al-Qarafī dalam kitab Tamyīz al-Ahkām menjelaskan: Kita harus memahami realitas kehidupan kita. Karena jika kita mengambil hukum yang ada di dalam kitab-kitab dan serta-merta menerapkannya kepada realitas apapun. Tanpa kita pastikan kesesuaian antara sebab hukum dan realitas kejadian, maka kita telah menyesatkan manusia.
Di samping memahami teks wahyu dan memahami realitas, Aswaja juga menambahkan unsur penting ketiga. Yaitu tata cara memanifestasikan atau menerapkan teks wahyu yang absolut kepada realitas kejadian yang bersifat relatif. Semua ini ditulis dengan jelas oleh mereka (Aswaja). Dan ini juga yang dijalankan hingga saat ini. Segala puji hanya bagi Allah yang karena anugerah-Nya semua hal baik menjadi sempurna.
Inilah yang tidak dimiliki oleh kelompok-kelompak radikal. Mereka tidak memahami teks wahyu. Mereka meyakini bahwa semua yang terlintas di benak mereka adalah kebenaran yang wajib mereka ikuti dengan patuh. Mereka tidak memahami realitas kehidupan. Mereka juga tidak memiliki metode dalam menerapkan teks wahyu pada tataran realitas. Karena itu mereka sesat dan menyesatkan, seperti yang Imam Al-Qarāfī jelaskan.
Aswaja tidak mengkafirkan
Aswaja tidak mengkafirkan siapapun, kecuali orang yang mengakui bahwa ia telah keluar dari Islam. Juga orang yang keluar dari barisan umat Islam. Aswaja tidak pernah mengkafirkan orang yang salat menghadap kiblat. Aswaja tidak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan tidak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram).
Aswaja menerima perbedaan dan menjelaskan dalil-dalil setiap permasalahan. Serta menerima kemajemukan dan keragaman dalam akidah, atau fikih, atau tasawuf.
(mengutip 3 bait dari Al-Burdah):
“Para nabi semua meminta dari dirinya.
Seciduk lautan kemuliaannya dan setitik hujan ilmunya.
Para nabi sama berdiri di puncak mereka.
Mengharap setitik ilmu atau seonggok hikmahnya.
Dialah Rasul yang sempurna batin dan lahirnya.
Terpilih sebagai kekasih Allah Pencipta manusia.”
Aswaja berada di jalan cahaya terang yang malamnya seterang siangnya, orang yang keluar dari jalan itu pasti celaka. Aswaja menyerukan pada kebajikan, dan melarang kemungkaran. Mereka juga waspada dalam menjalankan agama. Mereka tidak pernah menjadikan kekerasan sebagai jalan.
Diriwayatkan dari sahabat Abu Musa al-Asy’arī, bahwa Rasulullah SAW. bersabda. “…hingga seseorang membunuh tetangganya, saudaranya, pamannya dan sepupunya”. Para sahabat tercengang: “Subhānallah, apakah saat itu mereka punya akal yang waras?” Rasulullah menjawab. “Tidak. Allah telah mencabut akal orang-orang yang hidup pada masa itu. Sehingga mereka merasa benar, padahal mereka tidaklah dalam kebenaran.”
Rasulullah juga bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari barisan umatku. Menikam (membunuh) orang saleh dan orang jahatnya. Ia tidak peduli pada orang mukmin juga tidak menghormati orang yang melakukan perjanjian damai (ahlu dzimmah). Sungguh dia bukanlah bagian dari saya, dan saya bukanlah bagian dari dia.”
Aswaja memahami agama secara benar
Aswaja memahami syariat dari awalnya. Mereka memahami “Bismillāhirrahmānirrahīm” (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Allah Menyebutkan dua nama-Nya, yaitu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah tidak mengatakan: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Membalas dan Maha Kuat”. Justru Allah menyampaikan pesan keindahan dalam keindahan (melalui Al-Rahmān dan Al-Rahīm). Allah tidak mengenalkan diri-Nya dengan keagungan-Nya SWT.
Kami belajar “Bismillāhirrahmānirrahīm” di Al-Azhar. Para ulama Al-Azhar saat menafsirkannya menjelaskan dengan banyak ilmu. Mereka menjelaskan “Bismillāhirrahmānirrahīm” dari banyak perspektif ilmu: fikih, mantiq (logika), akidah, suluk dan balaghah. Mereka sabar duduk menjelaskannya dengan begitu lama dan panjang. Hingga kita menyangka bahwa penjelasan mereka tidak ada ujungnya.
Kemudian, setelah musibah (teror golongan radikal) ini menimpa, kita baru memahami bahwa metode mengajar ulama Al-Azhar itu merupakan kebenaran. Mereka membangun piramida (ilmu kita) sesuai cara yang benar: membangun pondasi piramida dari bawah. Hingga sampai pada ujung lancipnya yang berada di atas. Sementara kelompok radikal membalik cara membangun piramida (ilmu mereka, ujungnya di bawah, dan pondasinya di atas). Hingga piramida itu runtuh mengenai kepala mereka sendiri.
Aswaja tidak memungkiri peran akal, bahkan mereka mampu mensinergikan akal dan teks wahyu. Serta mampu hidup damai bersama golongan lain.
Aswaja tidak pernah membuat opini umum palsu (memprovokasi). Mereka tidak pernah bertabrakan (melakukan kekerasan) dengan siapapun di jagad raya. Aswaja justru membuka hati dan jiwa mereka untuk semua orang. Hingga mereka berbondong-bondong masuk Islam.
Para ulama Aswaja telah melaksanakan apa yang harus mereka lakukan pada zaman mereka. Karena itu kita juga harus melaksanakan kewajiban kita di zaman ini dengan baik. Kita wajib memahami teks wahyu, memahami realitas dan mempelajari metode penerapan teks wahyu pada realitas.
Aswaja dan Al-Azhar
Aswaja memperhatikan dengan cermat 4 faktor perubahan, yaitu: waktu, tempat, individu dan keadaan. Al-Qarāfī menulis kitab luar biasa yang bernama al-Furūq untuk membangun naluri ilmiah (malakah) hingga kita mampu melihat perbedaan detail.
Awal yang benar akan mengantar pada akhir yang benar juga. Karena itu, barangsiapa yang mempelajari alfabet ilmu (pondasi awal ilmu) dengan salah. Maka ia akan membaca dengan salah juga. Lalu memahami dengan salah. Kemudian menerapkan dengan salah, hingga ia menghalangi manusia dari jalan Allah tanpa ia sadari. Inilah yang terjadi (dan yang membedakan) antara orang yang belajar ilmu bermanfaat, terutama Al-Azhar sebagai pemimpin lembaga-lembaga keilmuan. Dan antara orang yang mengikuti hawa nafsunya, merusak dunia dan menjelekkan citra Islam serta kaum muslimin.
Pesan saya kepada umat Islam dan dunia luar: Ketahuilah bahwa Al-Azhar adalah pembina Aswaja. Sungguh oknum-oknum (yang membencinya) telah menyebar kabar keji, dusta dan palsu bahwa Al-Azhar telah mengalami penetrasi (dan lumpuh). Mereka ingin membuat umat manusia meragukan Al-Azhar sebagai otoritas yang terpercaya. Hingga mereka tidak mau kembali lagi kepada Al-Azhar sebagai tempat rujukan dan perlindungan.
Al-Azhar tetap berdiri dengan pertolongan Allah SWT, di bawah pimpinan grand syaikhnya. Setiap hari Al-Azhar berusaha untuk mencapai tujuan-tujuan mulianya. Juga membuka mata seluruh dunia, menyelamatkan mereka dari musibah (radikalisme) yang menimpa.
Aswaja menyebarkan ajaran Islam yang benar
Al-Azhar tidak disusupi dan tak akan lumpuh selamanya hingga hari akhir, karena Allah Yang membangunnya dan melindunginya. Allah juga Yang mentakdirkan orang-orang pilihan-Nya untuk mejalankan manhaj Aswaja di Al-Azhar. Meski orang fasik tidak menyukainya.
Doakanlah untuk kami, semoga Allah memberi kami tuntunan taufīq agar kami bisa melakukan hal yang dicintai dan diridhai-Nya.
Doakan agar kami mampu menyebar luaskan agama yang benar ini. Dengan pemahaman dan praktek yang benar juga. Dan semoga kami mampu menjelaskan jalan yang penuh cahaya ini kepada umat manusia, sesuai ajaran Rasulullah.
Doakan kami semoga Allah membimbing kita semua di muktamar ini, dan pasca muktamar. Semoga muktamar ini bisa menjadi awal perbaikan citra Islam di kalangan korban Islamophobia, baik muslim maupun non-muslim.
Maulana Syaikh Ali Jum’ah – Ahlussunnah wal Jamaah / Aswaja.
Senin, 12 September 2016
KEBANGGAAN MUSLIMIN ADALAH ALQURAN
KEBANGGAAN
MUSLIMIN ADALAH ALQURAN
(ARBAIN
NURUL QURAN NO 18)
عَنْ عَائِشةَ قَالَتْ , قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ , انَّ لِكُلِّ شَيْءٍ
شَرَفًا يَتَبَاهَوْنَ بِهِ , وَأِنَّا بَهَاءَ أُمَّتِيْ وَشَرَفَهَا الْقُرْآننُ
( رواه أبو نُعيم في الحلية )
Dari Aisyah rodhiyallahu
anha, Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda : “ Sesungguhnya setiap
kaum memiliki kemuliaan yang mereka banggakan. Dan sesungguhnya kebanggaan bagi
umatku dan kemuliaannya adalah alquran.”
(HR. Abu Nu’aim – Al Khilyah)
(HR. Abu Nu’aim – Al Khilyah)
FAEDAH :
Tidak ada yang lebih
dibanggakan yang lebih layak bagi Muslimin umat Rosulallah shollallahu alaihi
wa sallam melainkan Alquran. Banyak manusia bermegah-megahan dan
berbangga-bangga dengan harta, keturunan, kehormatan, keluarga dan lainnya.
Kemegahan dunia bersifat fana (tak kekal) dan sedikit nilainya. Seberapapun
hebatnya kemegahan dunia akan sirna pula. Sedangkan kesempurnaan kalamullah tak
akan sirna selamanya, tak ada yang bisa merendahkan kemuliaannya. Maka
kebanggaan muslimin adalah Alquran, yaitu membaca, menghafal, mengamalkan dan
mengajarkannya. Setiap amalannya merupakan sesuatu yang lebih patut dibanggakan
karena akan membawa menuju kemuliaan selamanya disisi Allah Ta’ala.
Keindahan kalamullah tak akan
membuat bosan bagi para pembaca dan penghafalnya seberapa sering dia dibaca.
Kebenaran dan rahasia ilmu hikmah yang terkandung didalamnya tak habis ditelaah
sepanjang jaman. Siapapun yang berusaha merendahkan dan menghancurkannya
pastilah akan hancur dan binasa. Sehingga patut pulalah para hafidz dan ulama
menjadi kebanggaan kaum muslimin karena tersimpan dan terpancar cahaya Alquran
didalam diri beliau.
Masihkah kita berangga
dengan sesuatu yang akan hilang seiring kematian. Padahal Alquran akan meninggikan
derajat kemuliaan, keberkahan hidup dan kebahagiaan abadi bagi muslimin. Sudah
selayaknyalah kita raih keberkahan, kehormatan dan kemuliaan disisi Allah
melalui perjuangan, usaha dan cinta kita dalam amalan-amalan terkait Alquran.
Kepada Allah jualah semata kita harapkan hidayah dan taufiqnya agar menjadi
ahlul quran.
Wallahu a’lam
ALQURAN PEMBERSIH HATI
ALQURAN PEMBERSIH HATI
(Arbain
Nurul Quran no 17)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِنَّ هَذِهِ
الْقُلُوْبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِ يْدَ اِذَا أَصَابَهُ الْمَاءُ ,
قِيْلَ يَا رَسُوْلُ اللَّهِ وَمَا جِلاَؤُهَا , قَالَ : كَثْرَةُ ذِكْرِة
الْمَوْتِ وَتِلاَوَةُ الْقُرْآنِ (رواه البيهقي في شُعب الايمان)
INNA HADZIHIL QULUUBA TASHDA-U KAMAA
YASHDA-UL KHADIIDA IDZAA ASHOOBAHUL MAA-U, QIILA YAA ROSUULULLAH WA MAA
JILAA-UHAA, QOOLA KATSROTU DIKRIL MAUT WA TILAAWATUL QUR-AAN
Dari
Ibnu Umar rodhiyallahu anhum, Rosulallahu shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda
: “ Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat jika terkena air”.
Sahabat bertanya : “Yaa Rosulullah, apakah pembersihnya?”. Beliau bersabda :
“Banyak mengingat maut dan membaca Alquran”. (HR. Baihaqi)
FAEDAH :
Hati
merupakan organ rukhaniyah yang tersimpan didalamnya Iman. Cahaya iman yang
memantul dari hati yang jernih, ibarat cermin (reflektor) memantulkan sinar
ma’rifatullah. Semakin jernih hati maka semakin terang mampu memantulkan sinar
malrifat. Demikian pula bila keruh hati, karena jebakan godaan nafsu maksiat
dan tipu daya syetan maka kotoran jiwa akibat dosa maksiat akan menjauhkannya
dari ma’rifatullah.
Disebutkan
dalam hadits bahwa dosa-dosa yang dilakukan hamba akan menimbulkan noda hitam
dihatinya. Jika ia sungguh-sungguh taubat maka akan gugurlah kerak hitam
tersebut. Sebaliknya bila ia melakukan dosa maksiat lainnya maka akan muncul
noda hitam lainnya, demikian seterusnya. Jika semakin tebal kerak hitam di hati
maka padamlah cahaya iman yang menghilangkan keinginannya terhadap kebaikan.
Bahkan hatinya akan condong ke arah maksiat / kejahatan. Naudzubillahi min
dzalika, semoga Allah menjaga kita dari hal yang demikan itu. Alquran telah
menyebutkan dalam hal tersebut :
كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Sekali-kali
tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati
mereka. (Q.S al-Muthaffifin [83] : 14)
hati
itu dapat berkarat, kecuali apabila pemiliknya rajin merawatnya seperti yang
disebutkan Rosulullah Saw tersebut, jika tidak maka akan menjadi hitam legam
karena jauh dari cahaya. hati itu hitam karena cintanya pada dunia dan rakus
terhadapnya.
Kerakusan
mengumpulkan kemegahan dunia menjadikan manusia tamak yang kemudian tak mampu
lagi membedakan sumber halal maupun
haram, bahkan kehilangan pula rasa malu dan muraqabahnya kepada Allah akan
hilang.
Rasulullah
sallallohu alaihi wasallam menasihatkan agar membersihkan karat hati dengan
resep yang telah diberikan oleh beliau. Sekiranya seorang mengidap suatu
penyakit, lalu seorang dokter memberinya resep sebagai obatnya, tentu ia tidak
merasa nyaman hidup sebelum meminum obat tersebut.
Senantiasalah
mendengarkan nasihat, sesungguhnya jika hati tidak mendengarkan nasihat, ia
akan menjadi buta. Apalagi nasehat yang diberikan Rosulallah shollallahu alaihi
wasallam , agar senantiasa banyak
mengingat mati dan membaca Alquran sehingga hati menjadi jernih dan tidak
berkerak, memantulkan cahaya iman.
Wallahu
a’lam
Kamis, 04 Februari 2016
PEMBUKAAN WIRID
PEMBUKAAN
AMALAN
SAYYID
MUHAMMAD BIN ‘ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Moga-moga Allah merahmatinya [Rahimahu
Allahu Ta’ala]
ALLAHUMMA
INNII UQODDIMU ILAIKA BAINA YADAI KULLI NAFASIN WALAMKHATIN WATHORFATIN
YATHRIFU BIHAA AHLUS SAMAWAATI WA AHLUL ARDHI, WA KULLI SYAI-IN HUWA FII
‘ILMIKA KAA-INUN AUQOD KAANA, UQODDIMU ILAIKA BAINA YADAI DZALIKA KULLIH
Ya
Allah! Sesungguhnya aku persembahkan (amalanku ini) kepadaMu di hadapan setiap
nafas, setiap kerlipan mata dan pandangan segala penduduk langit dan bumi, dan setiap
sesuatu yang berada di dalam pengetahuanMu, yang akan berlaku atau pun yang
telah berlaku. Aku persembahkan kepadaMu di hadapan yang demikian itu semuanya
(agar ia menjadi saksi amalanku ini).
Jumat, 02 Oktober 2015
“APAKAH NABI PERNAH MELAKUKAN TAHLILAN???”
BERDALIL DENGAN PERTANYAAN : “APAKAH NABI PERNAH MELAKUKAN TAHLILAN???”
Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut lebih rinci kita lihat dialog antara sdr SWH dengan sdr AWJ , saya kasih judul ; PERTANYAAN BODOH vs JAWABAN CERDAS.
Saudara SWH bertanya : APAKAH NABI PERNAH MELAKUKAN ACARA TAHLILAN???
Saudara AWJ menjawab : Itu pertanyaannya gk jauh beda seperti apakah Nabi Muhammad membaca Al-qur’an berupa mushaf???
Dialog tersebut kita kupas secara logika dulu :
Dalam penalaran /logika pertanyaan sdr SWH yang dangkal : KALAU TAHLILAN GAK PERNAH DILAKUKAN NABI BERARTI TERLARANG, pertanyaannya APAKAH YANG TIDAK DILAKUKAN NABI MUSTI TERLARANG ????
Dalam penalaran/logika jawaban AWJ yang cerdas : membantah kaidah ; YANG TAK DILAKUKA NABI TERLARANG dengan logika : kalaulah yang nabi lakukan adalah terlarang, padahal Muskhaf alquran adanya setelah Nabi wafat, artinya MEMANG NABI TAK PERNAH BACA ALQUR’AN MENGGUNAKAN MUSKHAF, seolah olah kesimpulannya : JADI MEMBACA ALQUR’AN PAKAI MUSKHAF TERLARANG DONG ....
hahahahaha ........ jawaban ngeles yang cerdas, apalagi menggunakan Muskhaf yang baru ada sejak abad 20 yaitu Muskhaf yang telah dihiasi dengan tanda bacaan, tanda warana tajwid, terjemahan bahasa indonesia, keterangan asbabun nuzul, tafsirnya .... semua menjadi bagian dalam Muskhaf Alquran Modern.
LOGIKA CERDAS PERTANYAAN BALIK sdr AWJ SESUNGGUHNYA SUDAH LANGSUNG BISA MEMATAHKAN LOGIKA DANGKAL PERTANYAAN sdr SWH.
SESUNGGUHNYA LEBIH CERDAS DALAM MENENTUKAN APAKAH SUATU PERKARA/AMALIAH (dalam hal ini Tahlilan) BISA DITERIMA SECARA SYARIAT ATAU TIDAK MENGGUNAKAN KAIDAH ULAMA (MISALNYA IMAM SYAFII) :
al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan sebagaimana disebutkan olah al-Muhaddits al-Baihaqi :
“Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sa’id bin Abu ‘Amr, telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbas Muhammad bin Ya’qub, telah menceritakan kepada kami ar-Rabi’ bin Sulaiman, ia berkata :
Imam asy-Syafi’i pernah berkata : perkara baru (muhdatsaat) itu terbagi menjadi menjadi dua bagian :
1. Suatu perkara baru yang menyelisihi al-Qur’an, Sunnah, Atsar atau Ijma’, maka ini termasuk perkara baru yang disebut BID”AH DHOLALAH, dan
2. Suatu perkara baru yang baik yang didalamnya tidak menyelisihi dari salah satu tersebut, maka ini perkara baru (muhdats) yang tidak buruk,
dan sungguh Sayyidina ‘Umar radliyallahu ‘anh berkata tentang shalat pada bulan Ramadhan (shalat Tarawih) : “sebaik-baiknya bid’ah adalah ini”, yakni perkara muhdats yang tidak ada sebelumnya, walaupun keberadaannya tidaklah bertentangan dengan sebelumnya.
MENURUT KAIDAH IMAM SYAFII SESUATU ITU TERLARANG BILA MENYELISIHI AL-QUR’AN, SUNNAH, ATSAR ATAU IJMA’
Dalil pengharaman sesuatu haruslah menggunakan nash, baik itu dari Al-Qur’an maupun Hadits yang melarang atau mengingkari perbuatan tersebut. Tidak bisa langsung diharamkan hanya karena Nabi atau salafus salih tidak pernah memperbuatnya.
Allah Swt. berfirman :
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.
(QS. al-Hasyr : 7)
Hadits Nabi Saw. :
كَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ
[Abu Hurairah] bercerita bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apa yang telah aku larang untukmu maka jauhilah. Dan apa yang kuperintahkan kepadamu, maka kerjakanlah dengan sekuat tenaga kalian. Sesungguhnya umat sebelum kalian binasa karena mereka banyak tanya, dan sering berselisih dengan para Nabi mereka." (HR.MUSLIM)
DARI AYAT DAN HADITS DIATAS BISA DIAMBIL KAIDAH :
APA YANG DIPERINTAHKAN OLEH NABI DIKERJAKAN DENGAN SEKUAT KEMAMPUAN.
APA YANG DILARANG NABI DIJAUHI
BAGAIMANA DENGAN YANG TIDAK DIPERINTAHKAN DAN TIDAK DIKERJAKAN NABI ? ULAMA MENJELASKAN BOLEH DILAKUKAN,
kita lihat dalam ayat dan hadits diatas TIDAK ADA LARANGAN UNTUK MENGERJAKAN YANG TIDAK DIKERJAKAN NABI.
KESIMPULANNYA : BILA TAHLILAN TIDAK MENYELISIHI AL-QUR’AN, SUNNAH, ATSAR DAN IJMA’, MAKA INI BUKANLAH PERKARA YANG BURUK MENYELAHI SYARIAT.
KEMBALI KE .... LAPTOP!!! (PERTANYAAN)
PERTANYAAN sdr SWH : “APAKAH NABI PERNAH MELAKUKAN TAHLILAN???”
JAWAB :
TAHLILAN ADALAH :
Suatu rangkaian amaliah yang dilaksanakan dalam suatu waktu, terdiri dari amalan :
- SEDEKAH MAKANAN UNTUK MERAHMATI MAYYIT
- MEMBACA ALQURAN
- MEMBACA DZIKIR (TAHLIL, TAASBIH, TAHMID)
- MEMBACA SHOLAWAT
- BERDOA UNTUK SAUDARA MUSLIM UMUMNYA KHUSUSNYA ALMARHUM.
Terhadap amalan-amalan tersebut berdasar Hadits dan Atsar Sahabat :
1. NABI MENGANJURKAN SEDEKAH MAKANAN
2. NABI MENEGASKAN SAMPAINYA PAHALA SEDEKAH UNTUK MAYYIT
3. NABI MENGANJURKAN PEMBACAAN ALQURAN UNTUK MAYYIT
4. NABI MENERANGKAN BACAAN DZIKIR ADALAH SEDEKAH
5. NABI MENGANJURKAN MENOLONG MAYYIT DENGAN BACAAN ALQURAN DAN DZIKIR
6. NABI HADIR DALAM JAMUAN MAKAN KELUARGA BERDUKA
7. NABI MENGANJURKAN MENOLONG KELUARGA BERDUKA MENYEDIAKAN MAKANAN
8. SUNNAH NABI MEMULIYAKAN TAMU DENGAN JAMUAN MAKAN, SEBAGIMANA KELUARGA BERDUKA MEMULIAKAN TAMUNYA YANG DATANG UNTUK TURUT MENDOAKAN ALMARHUM
9. SAHABAT MELAKUKAN SEDEKAH MAKANAN 7 HARI SETELAH KEMATIAN
10. KHALIFAH UMAR BERWASIAT SEDEKAH MAKANAN SELAMA 3 HARI SETELAH PENGUBURAN
11. NABI MENGABARKAN ALLAH MENGIRIMKAN RAHMATNYA MELALUI ROMBONGAN MALAIKAT PADA MAJELIS DZIKIR YANG MELAKUKAN RANGKAIAN AMALAN : TASYAKURAN NIKMAT MEMUJI ALLAH, MEMBACA AL-QUR’AN, BERSHOLAWAT KEPADA NABIMUHAMMAD SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM DAN BERDOA UNTUK DUNIA DAN AKHIRAT.
Langganan:
Postingan (Atom)