iklan banner

Sabtu, 07 Januari 2017

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

ORANG-ORANG BERIMAN AKAN DIKUMPULKAN  BERSAMA KELUARGA DI SURGA

(Tafsir Imam Ibnu katsir Surat Al Mu’min : 8)


رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,
(QS.  Al Mu’min [40] : 8)

Dalam kitab tafsirnya Imam Ibnu katsir menjelaskan :

Artinya, kumpulkanlah mereka dengan orang-orang tersebut agar mereka senang karena berkumpul dengan keluarganya di tempat-tempat yang bersebelahan.

Sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. (At-Thur: 21)

Yaitu Kami samakan di antara mereka dalam tempat tinggal agar hati mereka senang, tanpa Kami kurangi pahala orang yang banyak amalnya dengan pahala orang yang sedikit amalnya agar menjadi sama. Tetapi Kami tambahkan kepada orang yang sedikit amalnya sehingga menjadi sama dengan orang yang banyak amalnya dari kalangan mereka; maka meratalah pahala amal mereka; hal ini sebagai karunia dan kemurahan dari Kami.

Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa sesungguhnya seorang mukmin itu apabila masuk surga, maka ia menanyakan tentang kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya, di manakah mereka berada. Maka dikatakan kepadanya, bahwa sesungguhnya mereka tidak setingkat denganmu dalam amalannya. Maka berkatalah ia, "Sesungguhnya aku beramal untuk diriku dan untuk mereka." Maka digabungkanlah mereka dengannya dalam tingkatan yang sama.

Kemudian Sa'id ibnu Jubair membaca ayat ini, yaitu firman Allah Swt.: Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Al-Mu’min: 8)


Wallahu a’lam

Jumat, 06 Januari 2017

Orang yang haram neraka

AKHLAQ YANG MENGHARAMKAN SESEORANG DARI NERAKA

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud ra, Rasulullah Saw bersabda:

ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ، ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ،ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻻَ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻛُﻢْ ﺑِﻤَﻦْ ﺗُﺤَﺮَّﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ؟ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﺑَﻠَﻰ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻫَﻴِّﻦٍ، ﻟَﻴِّﻦٍ، ﻗَﺮِﻳﺐٍ، ﺳَﻬْﻞٍ .

Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam berkata, "Maukah kalian aku tunjukkan orang yang haram (tersentuh api) neraka?. Para sahabat berkata,  "Iya, wahai Rasulallah!". Beliau menjawab, "(Haram tersentuh api neraka) orang yang HAYYIN, LAYYIN, QORIB, SAHLIN" .
(HR. At Tirmidzi dan Ibnu Hiban)

1. HAYYIN (rendah hati),

Orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan dzahir maupun batin. Penuh pertimbangan, tidak labil gampang marah, grusa-grusu dalam segala hal. Tidak gampangan memaki, melaknat dan ngamuk tersulut berita yang sampai padanya.  Orang yang ketika ada masalah tidak langsung emosi, tetapi selalu berusaha untuk bertabayyun dulu, tidak terburu-buru menyimpulkan atau menghakimi setiap orang yang melakukan kesalahan. Orang yang memiliki sifat Hayyin akan senantiasa berpikir positif tetang orang lain. Teduh jiwanya...

2. LAYYIN (lembah lembut)

Orang yang lembut dan kalem, baik dalam bertutur-kata atau berbuat. Tidak kasar, main cantik sesuai aturan, tidak semaunya sendiri, segalanya tertata rapi. Tidak galak yang suka memarahi orang yang berbeda pendapat dengannya. Identik tidak suka melakukan pemaksaan pendapat.Lemah lembut dan selalu menginginkan kebaikan untuk saudaranya sesama muslim.

3. QORIB (dekat dengan manusia)

Orang yang supel, gampang dekat dan akrab dengan orang lain. Menunjukkan keakraban, ramah dan menyenangkan orang bagi yang mengajak bicara. Tidak acuh tak acuh, cuek, gampang berpaling. Biasanya murah senyum jika bertemu dan wajahnya berseri-seri dan enak dipandang.Mudah untuk diajak berteman.

4. SAHLIN (mudah dalam bermu'amalah)

Orang yang "gampangan", tidak mempersulit sesuatu. Selalu ada solusi bagi setiap permasalahan. Tidak suka berbelit-belit, tidak menyusahkan dan membuat orang lain lari dan menghindar.

Empat sifat luhur yang menunjukkan kulitas akhlaq yang mulia. Akhlaq mulia yang menyebabkan dicintai Allah dan segenap makhluq. Dengan ridho-NYA mejauhkan orang yang memiliki sifat tersebut dari Adzab Neraka.

Semoga Allah berikan sifat yang demikianmemiliki ahlaqkul karimah.
Amiin Yaa Robbal alamin.


Rabu, 04 Januari 2017

AD-DU’A-U BIDLOHRIL GHOIB

KEUTAMAAN MENDOAKAN SAUDARA MUSLIM
BAIK YANG MASIH HIDUP MAUPUN YANG SUDAH MENINGGAL

Diantara keutamaan buah keimanan seorang muslim akan nampak pada segi amalan lahiriyah-nya.  Mereka sangat bersemangat untuk bisa memberikan kemanfaatan kepada saudaranya sesama muslim, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggak. Bantuan berbentuk pengajaran ilmu yang bermanfaat atau bantuan yang berupa materi atau paling tidak ia akan mendoakan kebaikan padanya. Sebagaimana perilaku para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshor, sehingga Allah puji akhlak sahabat tersebut dengan diabadikan dalam Alquran, yaitu :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:
“Wahai Rabb Kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman (berada) dalam hati kami. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)

Para ulama menafsirkan ayat tersebut, bahwa doa ini (ayat ini) mencakup segenap kaum mukminin yang terdahulu baik dari kalangan shahabat maupun kaum mukminin yang hidup sebelum masa shahabat, dan juga kaum mukminin yang datang setelah para shahabat.

Jadi doa mereka mencakup semua kaum mukminin. Mereka mendoakan bagi saudaranya sesama mukmin dengan kebaikan dalam keadaan saudaranya tersebut tidak hadir di hadapannya dan tanpa sepengetahuannya. Inilah yang diistilahkan oleh para ulama dalam kitab-kitabnya dengan AD-DU’A-U BIDLOHRIL GHOIB (اَلدُّعَاءُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ), yaitu : doa yang dilakukan tanpa kehadiran orang yang didoakan dan juga tanpa sepengetahuannya.

Imam Muslim meletakkan beberapa hadits dalam masalah ini dalam kitab Shohih-nya yang kemudian diberi judul oleh Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i: “Keutamaan doa untuk kaum muslimin dengan tanpa sepengetahuan dan kehadiran mereka.”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits dari shahabiyah Ummud Darda’:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ


Doa seorang muslim kepada saudaranya secara rahasia dan tidak hadir di hadapannya adalah sangat dikabulkan. Di sisinya ada seorang malaikat yang ditunjuk oleh Allah. Setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut berkata (kepadanya): “Ya Allah, kabulkanlah, dan (semoga) bagimu juga (mendapatkan balasan) yang semisalnya.” (HR. Muslim)

Al-Imam An-Nawawi menjelaskan hadits diatas dalam kitabnya, Al-Minhaj, dengan mengatakan, “Makna BIDLOHRIL GHOIB ( بِظَهْرِ الْغَيْبِ)adalah tanpa kehadiran orang yang didoakan di hadapannya dan tanpa sepengetahuannya. Amalan yang seperti ini benar-benar menunjukkan di dalam keikhlasannya.

Sejalan dengan ayat diatas bahwa mendoakan saudara muslim tanpa kehadirannya, baik ketidak hadiran secara fisik karena berlainan tempat didunia maupun yang didoakan telah meninggal dunia, memiliki keutamaan yang sangat besar. Diantara keutamaan mendoakan saudara muslim lainnya adalah :

hadits sahabat Ubadah bin al-Shamit radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu wa sallam bersabda :

مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبََ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً

Barangsiapa yang memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, maka Allah akan mencatat baginya dengan setiap orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagai satu pahala kebaikan.

Hadits shahih riwayat al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir juz 19 [909] dan Musnad al-Syamiyyin [2155]. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid juz 10 hlm 210, sanad hadits ini jayyid (istimewa).

Sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ يَتَصَدَّقُ بِهِ فَلْيَسْتَغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ فَإِنَّهُ صَدَقَةٌ

Barangsiapa yang tidak memiliki harta yang dapat ia sedekahkan, maka hendaklah memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman, karena sesungguhnya hal tersebut adalah sedekah.

Hadits hasan riwayat al-Thabarani dalam kitab al-Du’a’ [1849] dan al-Mu’jam al-Ausath [2693].

Hadits-hadits  di atas menganjurkan agar kita senantiasa mendoakan ampunan kepada Allah bagi saudara-saudara kita kaum beriman, laki-laki maupun perempuan, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Karena dengan doa tersebut, kita akan mendapatkan pahala sebanyak orang-orang yang beriman dan akan dicatat sebagai sedekah kita kepada mereka, serta di amini oleh malaikat. Mari kita saling mendoakan, agar Allah mengampuni kita dan saudara-saudara kita kaum beriman, laki-laki dan perempuan baik yang masih hidup maupu yang sudah meninggal . Jangan lupakan setiap kali berdoa terutama doa selepas sholat.

AUDZUBILLAHI MINASYAITHONIRROJIM
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

HAMDAN SYAKIRIN, HAMDAN NA’IMIN, HAMDAN YU’AFI NIAMAHU WAYUKAFI MAZIDAH. YA RABBANA LAKAL HAMDU KAMA YAMBAGHI LILJALALI WA’ADZIMI SULTHONIK.

Ya Allah ya Tuhan kami, segala puji untukMu, pemelihara alam semesta. Segala puji atas karunia dan kenikmatan yang Engkau limpahkan kepada kami. Segala puji atas keagunganMu, segala puji atas kemuliaanMu dan kekuasaanMu.

ALLOOHUMMA SHALLI WA SHALLIM 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD, WA'ALAA AALI SAYIIDINAA MUHAMMAD

Limpahkanlah shalawat dan salam kepaa junjungan kami nabi muhammad saw dan para pengikutnya sampai di akhir zaman.

ALLAHUMMAGHFIRLI WALIWALIDAYYA WARHAMHUMA KAMA RABBAYANI SHAGHIRA.

Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah kami, ampunilah kedua orang tua kami, Kasih sayangilah kedua orang tua kami sebagaimana mereka telah menyayangi kami waktu masih kecil.

ALLAHUMMAGHFIR LIL MUSLIMINA WAL MUSLIMAT, WAL MU’MININA MAL MU’MINAT, AL AHYAAI MINUM WAL AMWAT, INNAKA ‘ALA KULLI SYAI’IN QADIR.

ampunilah saudara-saudara kami, kerabat, musllimin muslimat, mu’minim mu’minat baik yang masih ada maupun yang telah wafat.

ROBBANAGHFIRLANA WA LI-IKHWAANINAL LADZINA SABAQUUNA BIL IIMAN WA LAA TAJ’AL FII QULUUBINA GHILLA LILLADZIINA AAMANU ROBBANA INNAKA ROUFUR ROKHIIM

Wahai Rabb Kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman (berada) dalam hati kami. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

WA SHALLI, ALLOOHUMMA, ‘ALAA ‘IBAADIKA WA RASUULIKA SAYYIDINAA WA MAULAANAA MUHAM-MADIN WA ‘ALAA AALIHII WA SHAHBIHII WA SALLIM. WAR-ZUQNAA KAMAALAL MUTAABA’ATI LAHUU ZHOOHI-RON WA BAATHINAN FII ‘AAFIYATIN WA SALAAMATIN, BIROHMATIKA YAA ARHAMAR ROOHIMIIN.

Limpahkanlah rahmat ta’zhim dan kesejahteraan, Ya Allah, kepada hamba dan Rasul-Mu, junjungan dan tuan kami, Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya. Berilah kami kesempurnaan mengikuti beliau secara lahir dan batin, dalam keadaan  sehat dan selamat, berkat rahmat-Mu, wahai Yang Maha Penyayang dari sekalian penyayang.

SUBHAANA ROBBIKA ROBBIL 'IZZATI 'AMMAA YASHIFUUN, WASALAAMUN 'ALAL MURSALIINA WALHAMDU LILLAAHI ROBBIL 'AALAMIIN.

Masa suci Tuhanmu, Tuhan pemilik kemuliaan, dari sifat-sifat yang mereka (musuh-musuhNya) berikan. Keselamatan selalu tertuju kepada Rasul, dan segala puji bagi Allah penguasa alam semesta.

AL-FAATIHAH


Senin, 02 Januari 2017

Dzikir Geleng Kepala

DALIL KEBOLEHAN MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA SAAT DZIKIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sekte Salafi Wahabi sering menuduh ASWAJA melaksanakan dzikir sambil geleng-geleng kepala gak ada sandaran dalilnya. Maka ayat dibawah ini merupakan sandaran hukum atas dibolehkannya berdzikir sambil geleng-geleng kepala maupun menggerakkan badan.

Dalam Ali Imran 191 diterangkan bahwa:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Ayat di atas juga dapat digunakan sebagai petunjuk bahwasannya berdzikir kepada Allah swt sangat dianjurkan dalam berbagai kesempatan dan kondisi. Tidak hanya ketika khusyu’ berdiam diri (tuma’ninah) tetapi juga ketika beraktifitas, (qiyaman wa qu’udan) baik berdiri maupun duduk, bahkan juga ketika berbaring (wa a’la junubihim). Apalagi hanya sekedar menggeleng-gelengkan kepala, selagi hal itu memiliki pengaruh yang positif maka hukumnya boleh-boleh saja. bahkan disunnahkan.

Hal inilah yang diinformasikan oleh kitab Fatawal Khalili ala Madzhabil Imamis Syafi’i hal. 26:

فتاوى الخليلى على مذهب الامام الشافعى صـ : ٢٦
أَنَّ الْحَرَكَةَ فِي الذِّكْرِ وَالْقِرَاءَةِ لَيْسَتْ مُحَرَّمَةً وَلَا مَكْرُوْهَةً بَلْ هِيَ مَطْلُوْبَةً فِي جُمْلَةِ أَحْوَالِ الذَّاكِرِيْنَ جَعَلَ لَهَا مِنْ قِيَامٍ وَقُعُوْدٍ وَجُنُوْبٍ وَحَرَكَةٍ وَسُكُوْنٍ وَسَفَرٍ وَحَضَرٍ وَغَنِيٍّ وَفَقْرٍ -الى ان قال- أَمَّا الْحَرَكَةُ تُذْهِبُ إِلٰى خُشُوْعِهِ فَالسُّكُوْنُ أَوْلٰى اهــ


Bergerak-gerak (menggerakkan kepala atau badan) pada saat dzikir, membaca Al-Qur'an, tidak diharamkan juga tidak dimakruhkan, bahkan hal itu dianjurkan pada sebagian situasinya orang yang dzikir (ketika akan menambah kekhusu'an), baik dzikir yang dilakukan pada saat berdiri, duduk, tidur miring, bergerak, diam, bepergian, di rumah, kaya, miskin dll. Namun jika bergerak-gerak itu akan menghilangkan kekhusu'an, maka lebih utama diam (tidak bergerak).

Rabu, 28 Desember 2016

AT-TIBYAN MASALAH 25

IMAM NAWAWI 
 “At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran”

MASALAH KE-25:
MEMELIHARA MEMBACA AL-QUR’AN PADA WAKTU MALAM.

Hendaklah seorang penghafaz Al-Qur’an lebih banyak membaca Al-Qur’an pada waktu malam dan dalam sembahyang malam.

Allah berfirman:
“…diantara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah s.w.t pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sholat). Mereka beriman kepada Allah s.w.t dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) berbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang sholeh. (QS Ali Imran: 113-114)

Diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dari Rasulullah s.a.w bahawa baginda bersabda:
 “Sebaik-baik lelaki ialah Abdullah, seandainya di sembahyang pada waktu malam.”

Dalam hadits lainnya dalam kitab Shahih disebutkan bahawa Nabi s.a.w bersabda:
“Wahai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti si fulan; dia kerjakan sembahyang malam, kemudian meninggalkannya.”

Diriwayatkan oleh Thabrani dan lainnya dari Sahl bin Sa’ad ra dari Rasulullah s.a.w baginda bersabda: “Kemulian orang mukmin adalah sembahyang di malam hari.”

Banyak hadits dan athar diriwayatkan berkenaan dengan hal ini.

Diriwayatkan dari Abu Ahwash Al-Jusyamiy, katanya: “Ada orang mendatangi sebuah kemah pada waktu malam. Dia mendengar suara dari penghuninya seperti dengungan lebah. Katanya: “Kenapa mereka merasa aman dari apa yang ditakutkan oleh orang lain?”

Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’I bahawa dia berkata: “Bacalah Al-Qur’an pada waktu malam, walaupun lamanya seperti memerah susu kambing.” Diriwayatkan dari Yazid Ar-Raqasyi, katanya: “Jika aku tidur, kemudian aku terbangun, kemudian aku tidur, maka kedua mataku tidak dapat tidur.”

Saya katakan: “Sesungguhnya sembahyang malam dan membaca AlQur’an ketika itu amat  diutamakan kerana ia lebih menyatukan hati dan lebih jauh dari hal-hal yang menyibukkan dan melalaikan. Di samping itu ia lebih mampu menjaga dari riya’ dan hal-hal lain yang sia-sia. Dan ia menjadi sebab timbulnya kebaikan-kebaikan pada waktu malam.”

Sesungguhnya Isra’ Rasulullah s.a.w terjadi pada waktu malam.

disebut di dalam hadits:
“Tuhanmu turun setiap malam ke langit dunia ketika berlalu sepertiga malam yang awal,  kemudian berkata: “Aku adalah Raja (2x), siapa yang memohon daripada-Ku maka Aku perkenankan.”

Diriwayatkan dalam hadits bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:
 “Pada waktu malam ada suatu saat di mana Allah s.w.t mengabulkan doa setiap malam.”

Diriwayatkan oleh penulis Bahjatul Asraar dengan isnadnya dari Sulaiman Al-Anmathi, katanya: “Aku pernah melihat Ali bin Abu Thalib ra dalam mimpi berkata: “Kalau bukan kerana orang yang sembahyang di malam hari dan lainnya puasa pada waktu siang. Niscaya bumimu telah digoncangkan dari bawahmu kerana kamu kaum yang buruk dan tidak taat.”

Ingatlah bahawa keutamaan sembahyang malam dan membaca AlQur’an ketika itu akan  menghasilkan sesuatu dan tercapainya yang sedikit dan yang banyak. Semakin banyak hal itu dilakukan, semakin baik, kecuali jika meliputi seluruh malam kerana yang demikian itu makruh dan boleh membahayakan dirinya.

Hal yang menunjukkan tercapainya keutamaan itu dengan amalan walaupun sedikit ialah hadits Abdullah bin Amrin Ibnu Al-Ash ra, katanya: Rasulullah s.a.w bersabda:
“Barangsiapa sembahyang malam dan membaca sepuluh ayat, dia tidak ditulis (dimasukkan) kedalam golongan orang yang lalai. Barangsiapa yang sembahyang dengan membaca seratus ayat, dia ditulis dalam golongan orang yang taat. Dan barangsiapa yang sembahyang membaca seribu ayat, dia ditulis ke dalam golongan orang yang berlaku adil.”  (Riwayat Abu Dawud dan lainnya)


Ath-Tha’labi menceritakan dari Ibnu Abbas ra, katanya: “Barangsiapa sembahyang dua rakaat pada waktu malam, lalu dia bermalam dalam keadaan sujud dan berdiri menghadap Allah s.w.t.”

iklan