TUJUH INDIKATOR KEBAHAGIAAN DI DUNIA
1. QALBUN SYAKIRUN
(hati yg selalu bersyukur)
Artinya, selalu menerima apa adanya (qana'ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur...
2. AL-AZWAJU SHALIHAH
(pasangan hidup yang shaleh)
Pasangan hidup yang shaleh akan menciptakan, suasana rumah dan keluarga yang shaleh pula...
3. AL-AULAAD UL ABRAR
(anak yg shaleh/shalehah)
Do'a anak yg sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah SWT, berbahagialah orang tua yang memiliki anak shaleh/shalehah...
4. AL-BAIATU SHALIHAH
(lingkungan yang kondusif untuk iman kita)
Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang shaleh yang selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan bila kita salah...
5. AL-MAAL UL-HALAL
(harta yang halal)
Bukan banyaknya harta tapi halalnya harta yang dimiliki. Harta yang halal akan menjauhkan setan dari hati...
Hati menjadi bersih, suci dan kokoh sehingga memberi ketenangan dalam hidup...
Berbahagialah orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya...
6. TAFAQQUH FID-DIEN
(semangat untuk memahami agama)
Dengan belajar ilmu agama, akan semakin cinta kepada agama dan semakin tinggi cintanya kepada Allah SWT dan Rasulnya...
Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya...
7. UMUR YANG BARAKAH.
Artinya, umur yang semakin tua semakin shaleh, setiap detiknya diisi dengan amal ibadah...
Semakin tua semakin rindu untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Inilah semangat hidup orang-2 yang barakah umurnya...
Semoga bermanfaat bagi kita bersama dalam rangka muhasabah diri...
Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin
Rabu, 01 November 2017
Kamis, 26 Oktober 2017
Sayyidina dalam sholawat
MENAMBAHKAN KATA
“SAYYIDINA” DALAM SHOLAWAT SERTA SEBUTAN GELAR DALAM NAMA BAGI SAHABAT DAN
ULAMA
Menambah kata
"Sayyid" sebelum menyebut nama Nabi Muhammad adalah perkara yang
dibolehkan di dalam syari’at. Karena pada kenyataannya Rasulullah adalah
seorang Sayyid, bahkan beliau adalah Sayyid al-‘Alamin, penghulu dan pimpinan
seluruh makhluk. Salah seorang ulama bahasa terkemuka, ar-Raghib al-Ashbahani
dalam kitab Mufradat Alfazh al-Qur’an, menuliskan bahwa di antara makna
“Sayyid” adalah seorang pemimpin, seorang yang membawahi perkumpulan satu kaum
yang dihormati dan dimuliakan (Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an, h. 254).
Dalam al-Qur’an, Allah menyebut Nabi Yahya dengan kata “Sayyid”:
وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (ءال عمران: 39
“... menjadi pemimpin dan
ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi termasuk keturunan
orang-orang saleh”. (QS. Ali ‘Imran: 39)
Nabi Muhammad jauh lebih
mulia dari pada Nabi Yahya, karena beliau adalah pimpinan seluruh para nabi dan
rasul. Dengan demikian mengatakan “Sayyid” bagi Nabi Muhammad tidak hanya
boleh, tapi sudah selayaknya, karena beliau lebih berhak untuk itu.
Kita tidak boleh
sembarangan untuk memanggil sebutan bagi para nabi. Allah ta’ala berfirman :
لا تَجْعَلُوا
دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ
اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ
يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ
أَلِيمٌ
Janganlah
kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu
kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang
yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya),
maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa
cobaan atau ditimpa azab yang pedih..(Qs.An Nuur (24)-Ayat 63)
Rasulullah sendiri
menyebutkan bahwa dirinya adalah seorang “Sayyid”. Beliau bersabda:
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ
ءَادَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ (رواه الترمذي)
“Saya adalah penghulu
manusia di hari kiamat”. (HR. at-Tirmidzi)
Dengan demikian di dalam
membaca shalawat boleh bagi kita mengucapkan “Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina
Muhammad”, meskipun tidak ada pada lafazh-lafazh shalawat yang diajarkan oleh
Nabi (ash-Shalawat al Ma'tsurah) dengan penambahan kata “Sayyid”. Karena
menyusun dzikir tertentu yang tidak ma'tsur boleh selama tidak bertentangan
dengan yang ma'tsur.
Demikian pula ketika kita
memberikan gelaran pada sebutan nama para sahabat juga para ulama yang memiliki
kedudukan tinggi dihadapan Allah. Sudah selayaknya kita tidak menyebut namanya
secara langsung sebagai penghormatan atas kemuliaan para sahabat dan para
ulama.
Sebagai contoh : Sayyidina
Umar, sayyidina Utsman, Sayyidina Ali, Maulana Ilyas, Maulana Muhammad
zakariya, Hadratusy syaikh Kh Hasyim asy’ari, Imam syafii, Imam Ahmad
Sebutan gelaran tersebut
untuk menundukkan hati kita dan melakukan penghormatan atas kemuliaan para
sahabat dan para ulama yang di ridhoi serta dirahmati oleh Allah Ta’ala. Sebagai penghormatan dan
pujian kita kepada mereka karena Allah pun memuji mereka :
جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا
عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
Artinya : “Balasan mereka
di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai;
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan
merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang
takut kepada Tuhannya. “ (Surat Al-Bayyinah Ayat 8)
Wallahu a’lam
Kamis, 19 Oktober 2017
Baca Alquran di Kuburan
SUNAHNYA
MEMBACAKAN ALQURAN KETIKA ZIARAH KUBUR
Amalan apa yang kita lakukan ketika kita ziarah kubur ?
disamping doa untuk arwah juga kita lakukan pembacaan Al-quran agar Allah
merahmati para arwah muslimin.
Rosulallah shollallahu alaihi wasallam mengajarka para sahabat
agar membacakan alfatihah dan sebagian surat Al Baqoroh setelah menguburkan
jenazah.
Berkaitan dengan hal ini Al-Imam Al-Baihaqi meriwayatkan
sebuah hadits,
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ
تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ
بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي
قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ
يحي بن معين 4 / 449)
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Beliau berkata: Saya
mendengar Rasulullah Shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Jika diantara
kalian ada yang meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakamkan. Dan
bacakanlah di samping kuburnya, Surat Al-Fatihah di dekat kepala dan ayat
terakhir Surat Al-Baqarah di dekat kakinya”. (Hadits Riwayat At-Thabrani dalam
al-Mu'jam al-Kabir No 13613, Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman No 9294, dan
Tarikh Yahya bin Maid 4/449).
Al-Hafidz Ibnu Hajar seorang ulama pakar hadits menyatakan
bahwa status hadits di atas adalah HASAN. (lihat Kitab Fath al-Bari III/184)
Para sahabat pun dikenal memiliki amalan membacakan
alquran ketika ziarah kubur.
Riwayat yang berkenaan membaca Al-Quran di kuburan ternyata
sudah diamalkan sejak masa sahabat :
عَنْ عُمَرَ قَالَ : اُحْضُرُوْا
أَمْوَاتَكُمْ فَأَلْزِمُوْهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَغْمِضُوْا
أَعْيُنَهُمْ إِذَا مَاتُوْا وَاقْرَؤُوْا عِنْدَهُمُ الْقُرْآنَ (أخرجه عبد
الرزاق رقم 6043 وابن أبى شيبة رقم 10882)
“Diriwayatkan dari Umar: Datangilah orang yang akan
meninggal, bacakan mereka Lailaha illallah, pejamkan matanya jika mereka
meninggal, dan bacakan al-Quran di dekatnya” (Abdurrazzaq No 6043 dan Ibnu Abi
Syaibah No 10882)
وَذَكَرَ الْخَلاَّلُ عَنِ الشُّعْبِي
قَالَ كَانَتِ اْلأَنْصَارُ إِذَا مَاتَ لَهُمُ الْمَيِّتُ اِخْتَلَفُوْا إِلَى
قَبْرِهِ يَقْرَءُوْنَ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ (
“Al-Khallal menyebutkan dari Syu’bi bahwa jika diantara
sahabat Anshar ada yang meninggal, maka mereka bergantian ke kuburnya membaca
al-Quran” (Ibnu Qayyim, Ar-Ruh).
KESIMPULAN PARA ULAMA
Al-Imam al-Nawawi, seorang ulama besar yang pakar dalam
berbagai bidang dan menyusun banyak kitab di berbagai disiplin ilmu, mengutip
kesepakatan ulama Syafi'iyah tentang membaca al-Quran di kuburan. Beliau
mengatakan,
وَيُسْتَحَب لِلزَّائِرِ اَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْقُرْآنِ مَا
تَيَسَّرَ وَيَدْعُوَ لَهُمْ عَقِبَهَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَاتَّفَقَ
عَلَيْهِ
"Dan dianjurkan bagi peziarah untuk membaca Al-Quran
sesuai kemampuannya dan mendoakan ahli kubur setelah membaca Al-Quran. Hal ini
dijelaskan oleh As-Syafi'i dan disepakati oleh ulama Syafi'iyah" (lihat
Kitab al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab V/311)
Di bagian lagi Imam Nawawi juga berkata:
قَالَ الشَّافِعِي وَاْلأَصْحَابُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَؤُوْا
عِنْدَهُ شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ قَالُوْا فَإِنْ خَتَمُوْا الْقُرْآنَ كُلَّهُ
كَانَ حَسَنًا (الأذكار النووية 1 / 162 والمجموع للشيخ النووي 5 / 294)
“Imam Syafii dan ulama Syafi'iyah menyatakan bahwa
DISUNNAHKAN membaca sebagian dari Al-Quran di dekat kuburnya. Mereka berkata,
Jika mereka mengkhatamkan Al-Quran keseluruhan, maka itu adalah hal yang
baik" (al-Adzkar I/162 dan al-Majmu' V/294).
Tidak hanya dari kalangan Syafi’iyyah saja, terdapat pula
keterangan bahwa beberapa ulama pun mengamalkan hal serupa. Seperti Al-Imam Abu
Ja’far al-Hasyimi, seorang guru besar madzhab Hanbali yang wafat tahun 470 H.
Ketika beliau wafat murid-murid Beliau membaca Al-Qur’an di makamnya sampai
hatam 10.000 kali. Begitu pula ketika Ibnu Taimiyah wafat, di kubur beliau juga
dibacakan al-Quran.(lihat Siyar A’alam Nubala karya Imam Ad-Dzahabai halaman
546 Jilid 18 juga Al-Bidayah wa nihayah halaman 156/14).
Dalil dan keterangan-keterangan di atas cukuplah menjadi
dalil ilmiah yang mendasari amaliah membaca Al-Quran dan kalimat toyyibah di
dekat kuburan bukanlah amalan yang mengada-ada. Keberadaannya merupakan hal
yang direkomendasikan secara sambung-menyambung hingga Rasulullah dan para
sahabat Beliau.
Wallahu a’lam
Minggu, 15 Oktober 2017
SIKAP TERHADAP SAUDARA MUSLIM
SIKAP TERHADAP SAUDARA MUSLIM
1. BERPRASANGKA
BAIK KEPADA SAUDARA MUSLIM SAMPAI DATANG BUKTI NYATA KEBURUKANNNYA.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ
إِثْمٌ
“Wahai
orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan
(zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.”
(Al-Hujurat: 12)
Maka yang menjadi kewajiban seorang Muslim, baik
lelaki atau perempuan, wajib untuk menjauhi prasangka buruk. Kecuali ada
sebab-sebab yang jelas (yang menunjukkan keburukan tersebut). Jika tidak ada,
maka wajib meninggalkan prasangka buruk.
2. SENANTIASA
SALING MENGINGATKAN DALAM KEBENARAN DAN KESABARAN
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya
manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan
nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr [103]:1 – 3)
Rasulullah saw.
bersabda yang artinya: “Seorang mukmin adalah cermin bagi
mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya dia segera memperbaikinya.”
(HR. Bukhari)
3. TIDAK
BERPUTUS ASA TERHADAP RAHMAT ALLAH DAN BERPRASANGKA BAIK PADA ALLAH
Nabi
shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah bersabda:
لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ
“Janganlah
sampai salah seorang dari kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik
sangka kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.” (HR Muslim dari Jabir radhiyallāhu ‘anhu)
Dalam hadits
qudsi, Allāh Subhānahu wa Ta’ālā berfirman:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ
“Sesungguhnya
Aku tergantung persangkaan hamba-Ku. Oleh karenanya, hamba-Ku. silahkan dia
berprasangka dengan apa yang dia mau terhadap diri-Ku,
إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ
Jika dia
berbaik sangka berupa kebaikan maka kebaikan baginya, jika dia berprasangka
buruk maka keburukan baginya.”
4. SENANTIASA
MENDOAKAN MUSLIMIN AGAR DIBERI PETUNJUK AGAR SENANTIASA MENETAPI JALAN YANG
LURUS.
“(Ya Allah). Tunjukilah kami jalan yang lurus (shiratal mustaqim), yaitu
jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan
orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat “ (Al Fatihah:6-7).
Dari Abu Darda’ ra. bahwasannya Rasulullah Saw.
bersabda: “Doa seorang muslim kepada saudaranya dengan tidak diketahui
saudaranya itu mustajab (dikabulkan), pada seorang muslim itu ada malaikat yang
diberi tugas supaya tiap ia mendoakan baik kepada saudaranya, maka malaikat
yang diberi tugas itu mengucapkan: “Semoga Allah berkenan mengabulkan, dan buat
kamu juga seperti itu.” (HR. Muslim)
Dari Ubay bin Ka’ab -radhiallahu anhu- dia berkata, “Jika Rasulullah Saw
menyebut seseorang lalu mendoakannya, maka beliau mulai dengan mendoakan diri
beliau sendiri.” (HR. At-Tirmizi)
Wallahu a’lam
Kamis, 23 Maret 2017
BERLAKU LEMAH LEMBUT DAN PENUH BELAS KASIH
AKHLAK MUKMIN
SEJATI :
BERLAKU
LEMAH LEMBUT DAN PENUH BELAS KASIH KEPADA SESAMANYA
Firman Allah Ta’ala :
فَبِما رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ
الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ......
“ Maka disebabkan
rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu
bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. ..... “. (Ali Imran:
159)
FAEDAH :
Allah
Swt berfirman kepada rasul-Nya seraya menyebutkan anugerah (rahmat) yang telah
dilimpahkan-Nya kepada beliau, juga kepada orang-orang mukmin; yaitu Allah
telah membuat hatinya lemah lembut kepada umatnya yang akibatnya mereka menaati
perintahnya dan menjauhi larangannya, Allah juga membuat tutur katanya terasa
menyejukkan hati mereka.
*******************
Firman Allah Ta’ala :
(فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ )
Maka disebabkan rahmat
dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. (Ali Imran: 159)
Yakni sikapmu yang lemah
lembut terhadap mereka, tiada lain hal itu dijadikan oleh Allah buatmu sebagai
rahmat buat dirimu dan juga buat mereka.
Qatadah mengatakan
sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah
kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. (Ali Imran: 159) Yaitu berkat
rahmat Allah-lah kamu dapat bersikap lemah lembut terhadap mereka.
Al-Hasan Al-Basri
mengatakan bahwa begitulah akhlak Nabi Muhammad Saw. yang diutus oleh Allah,
dengan menyandang akhlak ini. Makna ayat ini mirip dengan makna ayat yang lain,
yaitu firman-Nya:
لَقَدْ جاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ
حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya telah
datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa
olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi
kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (At-Taubah: 128)
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَيْوة، حَدَّثَنَا بَقِيَّة،
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ، حَدَّثَنِي أَبُو رَاشِدٍ الحُبْراني قَالَ:
أَخَدَ بِيَدِي أَبُو أمَامة الْبَاهِلِيُّ وَقَالَ: أَخَذَ بِيَدِي رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم فقال: "يَا أبَا أُمامَةَ، إنَّ مِنَ
الْمُؤْمِنينَ مَنْ يَلِينُ لِي قَلْبُه".
Imam Ahmad mengatakan,
telah menceritakan kepada kami Haiwah, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah,
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ziyad, telah menceritakan kepadaku
Abu Rasyid Al-Harrani yang mengatakan bahwa Abu Umamah Al-Bahili pernah
memegang tangannya, lalu bercerita bahwa Rasulullah Saw. pernah memegang
tangannya, kemudian bersabda: “ Hai Abu Umamah, sesungguhnya termasuk
orang-orang mukmin ialah orang yang dapat melunakkan hatinya “.
*******************
Kemudian Allah Swt.
berfirman:
وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Sekiranya kamu bersikap
keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (Ali Imran: 159)
Al-fadldlu (فَظًّا ) artinya keras,
tetapi makna yang dimaksud ialah keras dan kasar dalam berbicara,
Gholidlol qolbiy (غَلِيظَ الْقَلْبِ ) bermakna berhati kasar (keras hati).
Dengan kata lain,
sekiranya kamu kasar dalam berbicara dan berkeras hati dalam menghadapi mereka,
niscaya mereka bubar darimu dan meninggalkan kamu. Akan tetapi, Allah
menghimpun mereka di sekelilingmu dan membuat hatimu lemah lembut terhadap
mereka sehingga mereka menyukaimu,
seperti apa yang dikatakan
oleh Abdullah ibnu Amr: “ Sesungguhnya aku telah melihat di dalam
kitab-kitab terdahulu mengenai sifat Rasulullah Saw., bahwa beliau tidak keras,
tidak kasar, dan tidak bersuara gaduh di pasar-pasar, serta tidak pernah
membalas keburukan dengan keburukan lagi, melainkan memaafkan dan merelakan”.
وَرَوَى أَبُو إِسْمَاعِيلَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ التِّرْمِذِيُّ،
أَنْبَأَنَا بشْر بْنُ عُبَيد الدَّارِمِيُّ، حَدَّثَنَا عَمّار بْنُ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ، عَنِ الْمَسْعُودِيِّ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَة، عَنْ عَائِشَةَ،
قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إنَّ
اللَّهَ أمَرَنِي بِمُدَارَاةِ النَّاس كَمَا أمَرني بِإقَامَة الْفَرَائِضِ"
Abu Ismail Muhammad ibnu
Ismail At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Ubaid,
telah menceritakan ke-pada kami Ammar ibnu Abdur Rahman, dari Al-Mas'udi, dari
Abu Mulaikah, dari Siti Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw.
pernah bersabda: “ Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku agar
bersikap lemah lembut terhadap manusia sebagaimana Dia memerintahkan kepadaku
untuk mengerjakan hal-hal yang fardu” .
Wallahu a’lam
Langganan:
Postingan (Atom)